Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Politisi Bejo

Menjadi orang mujur, tentu menjadi dambaan setiap orang. Sebab itulah agama mengajarkan untuk selalu berbuat baik, berakhlak mulia dan beribadah yang tekun. Dalam setiap doa orang tua kitapun selalu terselip agar anak turunnya senantiasa di naungi kemujuran, di jauhkan dari bencana dan di mudahkan segala urusan. Selalu begitu dan begitu.


Tapi semua itu sepertinya tidak berlaku bagi Bejo. Seorang anggota DPRD yang baru saja di lantik untuk menggantikan posisi koleganya yang tersandung kasus korupsi proyek APBD. Anak seorang janda miskin di sebuah kampung nun jauh dari hingar bingar kota ini boleh di bilang salah satu orang paling mujur di dunia. Bagaimana tidak, sebelum di daulat sebagai seorang legislator, Bejo hanyalah seorang ketua partai tingkat kecamatan. Di pemilu dulu, dia hanyalah caleg partai dengan nomer urut yang sudah pasti tidak akan bisa terpilih. Berada di nomer urut 4 dengan perolehan suara terbesar ke lima jelas tidak mampu mengantarkannya sebagai anggota parlemen. Sebab sesuai perhitungan, partai tempat Bejo bernaung hanya menyapu dua kursi di dapilnya. Itupun dua duanya di rebut oleh caleg dengan modal besar dan berada di nomer urut atas.

“Tenang, Jo” hibur emaknya kala itu ketika tahu anaknya gagal meraih kursi.

“Bapakmu memberimu nama Bejo itu bukan tanpa sebab. Bapakmu pengen agar nama itu bisa mengantarkanmu menjadi manusia yang bejo, mujur dan mudah”.

“Iya mak” angguk Bejo sembari pikirannya melayang mengingat almarhum bapak yang sudah meninggal ketika Bejo berumur 10 tahun.

“Percaya ajalah sama emak. Cepat atau lambat kamu bakalan jadi wakil rakyat. Bukan karena apa apa, tapi karena memang kamu di takdirkan menjadi orang yang bejo”.

Bejo hanya tersenyum dalam hati. Emaknya memang kadang aneh dan tidak rasional. Bagi emak, sebuah nama tidak saja menggambarkan doa dari si pemberi nama, akan tetapi juga menjadi gambaran akan nasib sang pemilik nama.

“Mbahmu menamai emak, Prihatin. Makanya hidup mak ya begini terus. Nggak kaya kaya. Wong prihatin” tegas emak.

“Udah gitu ketemu jodoh kok ya namanya Narimo. Cocok. Jadi tutup ketemu panci. Prihatin dan selalu Narimo (menerima apa adanya)”.

“Ah..itu kebetulan aja, mak!” sanggah Bejo kala itu.

“Kamu itu, di kandani (di kasih tahu) orang tua kok nggak percaya to le (nak)” emaknya sewot.

Sebagai orang yang pernah mengenyam bangku sekolah dan sedikit banyak mengerti dunia modern, kepercayaan semacam itu tentu tidak serta merta di yakini Bejo. Toh banyak sekali contoh di sekitarnya, bahwa nama baik tak menjadi jaminan seseorang akan bernasib baik seperti namanya. Tetangga sebelah rumah namanya Muhammad, tapi kerjaannya judi dan mabuk tiap hari. Sementara kawan sekolahnya dulu ada yang bernama Karyo, tapi hingga sekarang nasibnya tetap saja jadi pengangguran. Lalu, gimana Bejo mau percaya dengan hal hal mistis yang di yakini oleh orangtuanya ?.

Memang, pada akhirnya Bejo berhasil menduduki kursi DPRD yang selama ini begitu ia impikan. Namun ia tak pernah percaya jika itu di sebut kemujuran. Bagi Bejo, kesuksesan yang di rengkuhnya akibat kerja keras penuh dedikasinya kepada partai dan rakyat. Berlaku jujur apa adanya, tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan dan senantiasa menjauhi hal hal yang bertentangan dengan hukum adalah sebuah perjuangan yang belum tentu bisa di lakukan oleh semua orang. Apa yang menimpa para koleganya yang akhirnya mengantar mereka ke penjara adalah contoh gamblang bahwa mereka tidak berjuang secara sungguh sungguh dan mentaati aturan. Kader partai yang korup memang tidak selayaknya berhak duduk di kursi kekuasaan. Orang seperti dirinyalah yang bekerja secara ikhlas dan taat aturan yang seharusnya ada di sana. Jadi sekali lagi bukan faktor mujur atau faktor namanya yang memang Bejo.

Suatu ketika, seorang direktur perusahaan yang bergerak di bidang kontraktor datang menemui ketua fraksinya. Dia menawari imbalan menggiurkan berupa cek perjalanan ke Thailand ditambah uang saku sebesar 100 juta kepada setiap anggota fraksi jika berhasil mengegolkan proposal yang di ajukan perusahaan. Tawaran fantastik dan paling menggiurkan yang pernah di berikan oleh pengusaha pada wakil rakyat. Dan seperti tabiat legislator kebanyakan, tawaran itu di sambut dengan antusias oleh sebagian besar anggota fraksi, kecuali Bejo.

Proposal proyek itupun akhirnya lolos dengan mulus dan di setujui sebagian besar anggota DPRD. Tiga puluhan wakil rakyat dari semua fraksi termasuk sepuluh kolega Bejo kemudian berangkat ke Thailand dengan sebuah pesawat komersil. Sementara sisanya sekitar lima belas anggota DPRD termasuk di antaranya Bejo, lebih memilih bertahan dan tidak mau tergiur oleh tawaran itu.

Namun tanpa di duga, sebuah kecelakaan terjadi. Pesawat yang di tumpangi oleh para wakil rakyat itu di kabarkan jatuh di laut. Tim SAR yang menangani bencana itu melansir bahwa tidak satupun penumpang yang selamat.

“Apa emak bilang, Jo. Kamu itu memang di gariskan untuk selalu bejo” sambut emak mengetahui dirinya tidak termasuk dalam rombongan yang mengalami nasib nahas.

“Itu bukan karena Bejo punya nama Bejo kali, mak” bantah Bejo.

“Itu ganjaran buat mereka yang berbuat salah. Udah makan uang suap, trus niatnya ke Thailand mau main lonte di sana. Ya Tuhan marahlah….”.

“Le….!” Panggil emak dengan mimik serius.

“Denger ya. Dulu waktu kamu masih dalam kandungan, aku dan bapakmu ini tirakatnya rajin loh. Bapakmu itu sampai puasa empat puluh hari. Emakmu ini shalat tahajud tiap malem. Untuk apa ?. Ya untuk mendoakan kamu itu. Biar bejo terus terusan. Ngono (gitu) loh le…”.

“Iya, tapi untuk masalah ini bukan karena aku ini bejo mak. Emak ngerti nggak sih, bejo itu apa ?”.

“Maksudmu ?” seraya menatap nanar ke wajah anaknya.

“Aku bilangin ya mak. Orang baik mendapatkan bejo itu sudah selayaknya. Yang di sebut bejo itu, kalau kita berbuat salah trus di selamatkan oleh Tuhan. Itu baru bejo, mak. Nah, kalau aku khan nggak pernah berbuat salah mak ?”.

“Itu bejo juga, le…”.

“Nggak bisa!”.

“Kamu itu kalau mak bilangin kok sukanya ngeyel (membantah) tho le. Bejo itu ya bejo. Mau salah mau benar, kamu tetap akan bejo. Ingat itu!!!” ucap emak dengan nada tinggi.

“Bukan ngeyel, mak. Tapi memang logikanya begitu. Berbuat baik itu hasilnya baik, berbuat jahat ya hasilnya jahat. Nggak ada berbuat jahat tapi tetap bejo. Nggak mungkin itu, mak!!” Bejo tak mau mengalah.

“Oh ngono (begitu) le ?. Sekarang emak tantangin kamu” kali ini emak terlihat serius.

“Maksud emak?” Bejo tak mengerti.

“Kalau kamu nggak percaya kalau kamu itu bejo, coba saja kamu berbuat jahat di pekerjaanmu. Kalau nanti kamu mendapatkan celaka, berarti omonganmu bener. Tapi kalau kamu selamat, berarti omongan emak yang bener”.

Bejo terkejut bukan main. Seolah tak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh orang yang telah melahirkannya itu.

“Kamu berani ndak menerima tantangan emak ?” desak emak.

Bejo terdiam. Terbayang di matanya, bagaimana ia yang selama ini selalu berbuat baik, jujur dan tidak mencederai kepercayaan rakyat, kemudian berbalik sikap menjadi orang yang jahat. Korupsi, menerima suap atau berbuat amoral lainnya. Dan kemudian karena kesalahannya itu, ia berurusan dengan penegak hukum, di jebloskan ke penjara dan di caci maki oleh semua orang. Itupun belum kalau Tuhan sendiri yang menghukumnya. Seperti kejadian yang menimpa teman temannya sesame anggota DPRD.

Tapi…

Bejo mengalihkan pandangannya pada wanita renta yang ada di depannya. Tak tampak keraguan sedikitpun di wajah emaknya. Dia tetap tegar dan yakin sekali dengan semua ucapannya. Bahkan kalaupun sekarang Bejo berlari ke belakang dan melompat ke dalam sumur sedalam lima belas meter, emak pasti tetap yakin kalau dirinya bakal terselamatkan.

“Berani, ndak ??” ulang sang emak.

Bejo mendongak.

“Kalau Bejo celaka gimana, mak ?” tanya Bejo bergidik juga.

“Lha kamu percaya nggak kalau kamu bakal bejo ?”.

Dengan nafas yang agak berat dan keraguan yang masih tersisa, akhirnya Bejo menganggukkan kepala.

“Baiklah, tapi emak jangan menyesal kalau Bejo nanti masuk penjara…” Bejo mengingatkan.

“Nggak akan masuk penjara, le…” sahut emak masih dalam pendiriannya.

*********************************

Demi melayani tantangan sang emak, rencana jahatpun  segera di rancang Bejo. Tidak sulit bagi Bejo untuk melakukan sesuatu yang melanggar aturan. Apalagi setelah kecelakaan yang menimpa kawan kawannya, kedudukan Bejo semakin kuat. Partainya yang kehilangan banyak kader kunci kemudian sepakat memilih Bejo sebagai ketua DPC menggantikan posisi ketua lama yang juga ikut menjadi korban kecelakaan. Tidak hanya itu, posisi ketua DPRDpun seminggu kemudian jatuh ke tangan Bejo. Dengan posisi ini, otomatis persinggungan antara dirinya dengan penguasa eksekutif terutama sang Bupati menjadi semakin intens. Dan kesempatan untuk berbuat tidak terpuji terbuka lebar.

Seperti halnya dalam rapat awal tahun di gedung DPRD dalam rangka membahas RAPBD. Orang pertama yang di kontak kepala daerah tentu saja dirinya. Dan benar saja, sang bupati secara pribadi mengajak dirinya untuk bertemu di sebuah hotel bintang lima guna membahas strategi meloloskan draft RAPBD. Bejo yang memang berniat ingin menguji kebenaran ucapan sang emak, tanpa banyak berpikir langsung mengiyakan permintaan sang bupati.

“Nanti saya kirim ajudan untuk menyerahkan drafnya ke pak Bejo untuk di pelajari. Setelah itu baru saya datang untuk membicarakan teknis selanjutnya” kata sang bupati melalui telepon.

Senyum mengembang tampak ranum merekah di bibir Bejo. Bukan karena ia bakalan menerima segepok uang dengan jumlah milyaran. Bukan pula ia memiliki kesempatan untuk memanjakan diri menginap di hotel mewah dengan fasilitas serba wah. Tapi ucapan irrasional emaknyalah yang membuat Bejo terlihat berseri seri.

“Emak saja begitu percaya diri dengan keyakinannya, kenapa aku tidak ?” pikir Bejo sesaat setelah tiba di kamar hotel.

“Anakmu ini mau korupsi mak. Menerima suap dengan jumlah milyaran. Di tangkap aparat penegak hukum, lalu di penjara. Dan emak akan segera sadar bahwa apa yang emak yakini selama ini salah. Salah besar mak…!!!”.

“Lihat sekarang, Bejo mau menelpon ajudan bupati. Meminta di bawakan lonte papan atas untuk menemani tidur Bejo” ucap Bejo sembari menelpon seseorang dan meminta untuk di kirimi pelacur paling mahal di kota ini.

“Harta dan wanita. Lengkap sudah kejahatan yang akan aku lakukan…” seringai Bejo sembari memencet kembali nomer nomer yang ada di ponselnya.

“Hallo pak Welas. Ini aku pak Bejo. Ketua DPRD. Bisa minta bantuan nggak ?” kata Bejo pada seseorang yang ia kenal sebagai kepala Satpol PP.

“Siap pak, apa yang bisa saya bantu ?” jawab pak Welas di ujung telepon.

“Aku melihat ada seorang camat sedang membawa perempuan yang bukan istrinya di Hotel Sejahtera. Menurut informasi, dia menginap di kamar 03. Kamu bawa pasukan untuk menangkap camat bejat itu”.

“Waduh, mesti ada perintah langsung dari pak bupati kalau masuk ke sana, pak”.

“Nggak usah, aku sudah ngomong ke pak bupati soal ini. Dan beliau udah ACC”.

“Tapi, surat perintahnya…”.

“Aku yang tanggung jawab. Masak kamu nggak percaya aku ?” potong Bejo mengarang cerita.

“Baiklah, pak!!!”.

Bejo tersenyum lebar. Raut wajahnya terlihat berseri seri. Laksana suporter tim sepakbola yang melonjak kegirangan manakala jagoannya menceploskan bola ke gawang musuh. Inilah saat yang tepat untuk memberi pelajaran atas arogansi emak.

"Kali ini emak akan menyesal telah memberi nama Bejo padaku. Bukan hanya anak kesayangannya ini akan menjadi orang pertama yang akan menggilas keyakinan kunonya, tapi yang lebih menyakitkan lagi, emak akan kehilangan anaknya...." seringai Bejo.

"Bukan hanya aku bakal menjadi tersangka kasus korupsi mak. Tapi akan menjadi tersangka kasus asusila. Ha ha ha ha!!!!".

Tok..tok...tok....!!!

Tiba tiba terdengar ketukan lirih dari balik pintu kamar hotel nomer 03. Bejo terhenyak dari tempat tidurnya, lalu bergegas menuju ke arah di mana suara itu berasal.

"Mas Bejo ya ???".

Sesosok perempuan muda bertubuh mungil dengan kaos tank top melekat di tubuh dan di padu dengan rok mini berwarna hitam menyembul dari balik pintu. Kulitnya putih mulus. Berhidung mancung, berambut lurus kemerahan dengan leher jenjang menopang wajah ayunya. Lekuk tubuhnya begitu menggiurkan, hingga membuat Bejo untuk sesaat terperanjat kagum.

Naluri kelelakian sang senator ini bergelora bak air yang mendidih di bakar di atas tungku. Panas, menyengat dan memacu adrenalin. Dia memang pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki teman dekat lawan jenis. Tapi rata rata memang wanita baik baik. Dan lagi belum pernah rasanya Bejo berhadapan langsung dengan perempuan nakal penjaja tubuh. Haram !!!.

"Ehmmm....iya, silahkan masuk..." sambut bejo dengan jantung berdebar debar.

"Saya Una, mas" perempuan muda dengan taksiran umur sekitar 20an itu mengulurkan tangannya.

Tidak ada sedikitpun rasa canggung dalam diri wanita ini. Justru Bejolah yang merasa seolah di intimidasi.

"Ehmm....nama yang sek.... ups..maksudku nama yang bagus. Silahkan duduk".

Keduanya kemudian berjalan menuju sebuah kursi sofa yang terletak tak jauh dari ranjang empuk berukuran besar di tengah tengah ruangan.

"Mas Bejo mau di servis sekarang atau mau nyantai dulu ?" kata Una seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa, mengangkat salah satu kakinya untuk di tumpangkan ke kaki yang lain.

"Assseeemmmm...." maki Bejo dalam hati. Bukan saja telinganya di jejali kalimat yang mengobarkan naluri kelelakian, tapi mata Bejo juga di suguhi pemandangan yang sungguh sulit lagi untuk di tolak.

"Ehmmm...aku....oh..aku..." gugup bukan main.

"Santai ajalah mas, khan kita di sini emang untuk bersenang senang ?".

"Bu..bukan...".

"Una tahu....Una tahu..." potong Una sambil mengerlingkan matanya.

"Mas Bejo belum pernah khan ?".

Kali ini Bejo benar benar di buat mati kutu.

"Jiancuk..tenan arek iki" lagi lagi Bejo mengumpat dalam hati.

"Sebentar ya Una...!".

Bejo mengangkat tubuhnya, berjalan menuju ke jendela. Matanya yang nanar menatap ke luar. Dari tempat itu ia memang bisa melihat secara jelas aktifitas di luar hotel. Halaman hotel yang luas dengan taman taman nan hijau. Pos satpam, jalan raya yang ramai pengendara dan segala hingar bingar di luar.

Menurut ajudan sang Bupati, proposal draft RAPBD akan di antar dua jam lagi bersama dengan uang pelicin yang akan Bejo terima. Sang ajudan memang sengaja memberinya kesempatan untuk menikmati dulu santapan batin yang sekarang sudah ada di kamarnya. Setelah transaksi seks dan transaksi suap selesai, baru sang bupati datang untuk membicarakan langkah selanjutnya.

"Kira kira KPK bakalan datang kemari nggak ya ??" Bejo menggaruk garuk kepalanya.

Ada rasa sesal hinggap di pikiran Bejo. Kenapa dari awal ia tak menyusun rencana, atau minimal menyuruh orang untuk membocorkan rencana suap ini ke KPK ?. Dan sekarang waktunya sudah telat. Tidak mungkin KPK mau menurunkan tim untuk menggerebek dirinya tanpa memverifikasi terlebih dahulu laporan yang masuk.

Bejo menatap ke arah jarum jam. Angka menunjukkan arah sembilan lebih sedikit. Bejo menoleh ke arah Una. Wanita panggilan yang mungkin masih kuliah itu hanya tersenyum sambil mengulum bibir. Tampaknya dia memang sudah sangat siap untuk memberikan pelayanan maksimal kepada dirinya.

"Di sini gerah banget ya mas ???" teriak Una dengan suara manja.

"Setel aja ACnya biar lebih dingin" sahut Bejo kembali melemparkan pandangan keluar.

"Aku nggak terlalu suka AC mas. Aku buka kaos aja ya...".

"Ya udah ...!!!" sekenanya.

"Welas lama banget" keluh Bejo tak sabar menunggu kedatangan pasukan polisi pamong praja yang memang di kenal suka mengurusi kasus kasus asusila itu.

Tit..tittt...tiit...

Tiba tiba ponsel Bejo berbunyi.

"Hallo Pak Bejo, ini pasukan udah kita kumpulkan. Setengah jam lagi meluncur...." kata seseorang dari ujung telpon.

"Ya sudah segera bergerak. TSKnya biar nggak keburu cek out...".

Hem...sekarang saat yang tepat untuk mengalahkan emak....!!!.

Pekik Bejo berbunga bunga. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, melanjutkan kembali rencana mesumnya bersama Una.

Dan alangkah terkejutnya Bejo, begitu ia membalikkan badan, matanya terantuk pada sebuah pemandangan yang seumur hidup belum pernah ia lihat. Perempuan yang tadi ia lihat masih memakai busana lengkap dan duduk manis di atas sofa, kini terlihat hanya mengenakan pakaian dalam dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

"Kamu...????" ucap Bejo tak mampu menahan rasa kagetnya.

"Tadinya Una cuma mau copot kaos. Tapi karena udah kegerahan banget, ya sekalian...." jawabnya manja.

"Iya, tapi kamu khan mestinya ngomong dulu. Bukan begini caranya!!!" bentak Bejo kalut.

Entah mengapa pikiran Bejo menjadi tak karu karuan. Ada semacam pemberontakan yang tiba tiba hadir menyerbu relung hatinya. Menghadirkan sebuah pertarungan batin yang begitu menyesakkan. Antara nafsu birahi yang terlecut dengan keimanan yang selama ini di pegang teguh olehnya. Antara dendam kesumatnya untuk mengalahkan keyakinan sang emak dengan moralitas yang selama ini senantiasa ia sanjung dan jaga betul.

"Kamu ini orang lurus Bejo. Semua orang mengenalmu sebagai pribadi yang baik, pribadi yang sangat menjaga moralitas. Jangankan untuk melakukan perbuatan amoral seperti ini, bahkan sekedar untuk mengambil sedikit yang itu belum tentu merugikan rakyatmupun kamu tidak mau...".

"Dulu kamu bukan siapa siapa Bejo. Sekolah kamu di bayari oleh negara. Makanmu dari beras jatah raskin. Berobat juga di tanggung negara. Lalu di mana rasa terima kasihmu pada negara ini, Jo ????".

"Lihat orang di sekitarmu. Apakah mereka seberuntung kamu ?. Betapa banyak orang yang bercita cita menjadi orang sepertimu, tapi mereka gagal mencapainya ?. Sedang kamu ?. Kamu dapatkan semuanya, Jo. Dengan mudah. Tanpa mengeluarkan banyak biaya".

"Tega teganya kamu, Jo. Menghina negaramu. Menghina rakyatmu yang telah susah payah mendukung dan mempercayaimu !!!".

"Astaghfirlloh..." Bejo memejamkan mata. Menyandarkan tubuhnya di dinding kamar. Batinnya meronta, jiwanya bergejolak.

"Kamu pakai pakaianmu lagi Una" ucap Bejo dengan nada lirih.

"Mas...." ragu ragu.

"Pakai saja jangan banyak tanya!!!" tegas Bejo.

"Ini ambil uang ini. Uang yang sudah di berikan oleh ajudan bupati, kembalikan saja" Bejo menyorongkan segepok uang dari balik dompetnya.

"Ada apa sih mas ???" kata Una setelah selesai memakai pakaiannya.

"Tidak ada apa apa. Sebaiknya kamu segera pulang. Terima kasih sudah mau datang kemari".

Wanita cantik itu hanya tersipu tanpa berani mengucapkan sepatah katapun. Sejurus kemudian ia melangkah keluar.

"Tunggu..." teriak Bejo menghentikan langkah pelacur mahasiswi itu.

"Iya, pak...".

"Siapa nama lengkapmu ?".

"Fortuna, pak".

"Bapakmu ?".

"Sabar, pak".

"Ibumu ?".

"Istiqomah, pak" setelah itu Una mengayunkan langkah dan kemudian hilang dari balik pintu.

"Fortuna itu Bejo. Sabar, Istiqomah...." guman Bejo menggaruk garuk kepalanya.

"Prihatin, Narimo, Bejo. Ahh...kenapa bisa kebetulan begini. Trus, kepala Satpol PP yang bakalan kecele namanya Welas" makin tak mengerti.

Emaaaaaaaaaaaakkkkkkkk!!!!!!

Quote : Jangan menyepelekan nama yang di berikan orangtua untukmu. Sebab ia tidak sekedar doa, tapi adalah gambaran nasibmu di masa depan.

Jakarta, Februari 2013