Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Media Gubrak

Mendung menggelayut di langit Jakarta. Membentuk perisai tebal berwarna kelam. Petir menyalak di kejauhan. Pertanda di belahan tempat lain mungkin hujan telah turun. Saya buru buru memacu kendaraan di kecepatan 60 km/jam. Sesekali harus berhenti, berjalan merayap menyibak kemacetan sambil sesekali menyumpah dalam hati. Betapa penyakit macet tak jua kunjung bisa di tangani dengan baik. Di pertigaan Pondok Labu, saya mengambil arah ke kiri, menuju sebuah bank swasta.

Seorang satpam bertubuh sedang menyambut dengan senyum ramah. Mempersilahkan saya duduk sembari menunggu antrian. Satu eksemplar koran seukuran koran tempo dengan jumlah halaman lebih kecil teronggok di atas meja. Bukan koran umum yang bisa kita temui di lapak lapak penjual koran. Terdiri dari 12 halaman dengan konten mengenai kegiatan perbankan, ulasan ekonomi kecil dan beberapa rubrik ringan lainnya. Sepertinya lebih mirip koran komunitas daripada koran news. Atau malah koran iklan ?. Di keluarkan oleh pihak bank untuk di berikan secara gratis kepada nasabah yang mau.

Saya pikir, ini ide cerdas dengan biaya yang tidak mahal. Kenapa saya katakan itu ide cerdas ?. Setahu saya, nasabah bank tersebut mayoritas bukanlah dari kalangan menengah ke atas yang notabene melek tehnologi dan memiliki pendidikan yang lumayan. Segmen yang di ambil rata rata adalah pelaku ekonomi menengah ke bawah seperti PKL, pedagang pasar dan industri kecil skala rumah tangga yang sebagian besar memang tidak terlalu mengenal dunia internet dan media online. Maka, keberadaan koran itu bagi nasabah sangat penting. Nasabah seperti di edukasi soal bagaimana merencanakan keuangan, membangun bisnis dan kreatif melahirkan karya karya sesuai dengan keahliannya. Bagi mereka yang melek tehnologi, hal hal demikian bukan sesuatu yang istimewa. Karena dengan sekali klik google, kita bisa mendapatkan informasi yang jauh lebih lengkap dan aktual. Namun bagi ibu ibu penjual sayur, abang abang penjual somey dan para pelaku ekonomi kecil lainnya, tentu keberadaan koran 'komunitas' itu menjadi penting.

Di luar koran yang saya sebut di atas, kita seringkali juga mendapati media media khusus lain yang di terbitkan oleh Ormas, LSM, Lembaga keagamaan, Komunitas dan lain sebagainya. Ada yang berbentuk koran, ada yang berbentuk buletin dan lain sebagainya. Yang ke semuanya memiliki tujuan untuk menyampaikan ide dan gagasan. HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) misalnya, setiap Jum'at mengirim ribuan eksemplar bulletin yang di bagi bagikan secara gratis di masjid masjid. Ormas ini sangat sadar, bagaimana pentingnya peran media dalam membangun opini di tengah masyarakat. Menyampaikan opini tidak mesti memakai biaya yang mahal, misalnya membuat media resmi dengan kategori umum. Akan tetapi juga bisa di lakukan dengan cara lain. Bahkan selembar selebaran pun bisa di pakai untuk menggalang opini.

Gubrak misalnya, selama ini kita juga menggunakan media untuk menyampaikan gagasan gagasan komunitas. Hanya saja media yang kita kelola selama ini saya kira masih terlalu bertumpu pada tehnologi. Yang pengaksesnya memerlukan keahlian dan pengetahuan tertentu, bahkan memerlukan biaya yang tidak sedikit. Misalnya website, jejaring sosial dan juga sms subuh via ponsel. Tentu, ini bukan sesuatu yang buruk, karena memang baru itu yang bisa kita lakukan. Akan tetapi jika kita memetakan keanggotaan Gubrak, tentu harus ada ide cerdas yang memungkinkan gagasan komunitas bisa di akses oleh semua lapisan anggotanya. Apalagi seperti yang pernah kita singgung terdahulu, bahwa pengguna tehnologi internet di kalangan Gubraker angkanya tidak terlalu signifikan. Hampir separuh Gubraker sama sekali tidak mengerti tehnologi itu. Baik jejaring sosial maupun media online.

Terus terang saya tertarik sekali dengan ide salah satu bank di atas. Untuk mencetak satu eksemplar dengan durasi 12 halaman saya kira costnya tidak terlalu besar. Kemungkinan kurang dari Rp 1000,-. Bahkan bisa setengahnya. Hanya saja, yang mahal memang SDMnya. Sumber daya manusia yang bersedia konsen mengelola media secara sukarela. Ini yang penting. Padahal, kalau mau di teliti dengan seksama, yang punya keahlian di bidang media, cukup ada. Walau tidak banyak. Dan saya kira, jika ada kemauan, kita bisa kok membuat koran kecil yang terbit di komunitas sebulan sekali.

Memang, walaupun berbiaya kecil, tetap saja itu butuh anggaran. Apalagi jika itu kita sebarkan secara gratis kepada anggota. Ambil contoh, jika kita mencetak sebanyak 300 eksemplar tiap bulan. Setidaknya kita butuh uang Rp 300.000,- (untuk cost cetak). Bukan angka kecil, buat kita semua yang baru tahap belajar mengelola komunitas. Akan tetapi bisa menjadi ringan jika semua elemen berpartisipasi.

Maka, keberadaan donatur tentu sangat penting. Tidak harus membuat proposal, sebab saya pribadi kurang begitu sreg dengan cara meminta bantuan keluar. Kita bisa memanfaatkan sumber daya anggota yang kita miliki. Tidak harus semua di mintai urunan. Bisa saja hanya beberapa. Yang penting cukup untuk operasi. Atau mungkin kita bisa pakai sistem sukarela. Setiap anggota yang berminat akan koran komunitas di persilahkan menyumbang seikhlasnya. Bagi yang tidak mampu, bisa saja hanya ongkos kirim. Yang mampu, bisa transfer ke rekening yang kita sediakan. Atau...kalau perlu bayarnya pakai pulsa aja.

Banyak cara untuk menggali dana di internal. Pertanyaan yang paling sulit di jawab adalah, ada tidak ? team yang bersedia konsen mengelola media ???

Monggo....