Theme images by Storman. Powered by Blogger.

IBUKU JANDA, MASALAH BUAT LOE ???

Ratih mengayuh  pedal sepedanya kuat kuat. Mesin angin itu kemudian melesat cepat meninggalkan warung makan milik mbok Sri yang terletak di pinggiran desa. Menyusuri  jalanan tak beraspal, berdebu dan di penuhi bebatuan sungai yang licin lagi berbahaya. Beberapa kali remaja tanggung berpakaian seragam sekolah dengan tas ransel butut tergantung di punggung itu nyaris tergelincir manakala ban sepedanya menubruk bebatuan besar lagi tajam yang tersebar di sepanjang jalan menuju rumahnya. Matanya terlihat sembab berurai butiran bening, nafasnya tersengal memburu, sementara dari pori pori kulitnya, peluh berlomba lomba keluar membasahi sekujur tubuh. Pun demikian, tak ada tanda tanda dari gadis yang masih duduk di kelas III SMA ini bakal mengendurkan laju sepedanya. Bahkan ketika sampai di tikungan dan makin dekat dengan tempat tinggalnya, Ratih malah kian kesetanan memutar sepasang pedal di kakinya.
 
 Pict : kloter2000.blogspot.com


Seorang lelaki tanggung berumur belasan tahun dan lebih muda dari Ratih yang sedang sibuk mencangkul di kebun samping rumah buru buru meninggalkan pekerjaannya dan berlari menyongsong kedatangan Ratih.

“Kamu makan sendiri aja, Ga!” kata Ratih sembari mengulurkan dua bungkus nasi dari balik tas ranselnya.

“Loh, mbak nggak lapar ?” remaja tanggung bernama Galih yang merupakan adik Ratih satu satunya itu bertanya.

“Nggak!”.

“Kenapa ?. Khan ini ada dua ?” heran.

“Udah kenyang…” seloroh Ratih seraya tergesa gesa mengayunkan kaki menuju sebuah bilik kamar yang terletak di bagian kanan bangunan rumah.
Ruangannya tidak terlalu besar. Berukuran 2 x 2 meter dengan dinding terbuat dari anyaman bambu yang berfungsi sebagai penyekat. Perabotan di dalamnya juga sangat minim. Terdiri dari sebuah ranjang tidur terbuat dari kayu dengan alas tikar plastik di atasnya, satu lemari di pojokan dan satu set meja belajar. Di situlah Ratih kemudian menumpahkan segala kekesalan sekaligus kekecewaan yang melanda hatinya.

Sejak di tinggal mati oleh ayahnya akibat sakit parah setahun lalu, keluarga Ratih memang tak pernah lepas dari berbagai masalah. Hanya berselang seminggu semenjak ayahnya meninggal, mereka terpaksa harus menjual sawah satu satunya demi membayar hutang sisa pengobatan sang ayah. Sementara sang ibu yang di harapkan bisa menggantikan peran ayah dalam hal mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarga sama sekali tak bisa berbuat banyak. Beberapa kali ibunya melamar pekerjaan di perusahaan perusahaan. Tapi karena ijazahnya hanya SD di tambah ia tidak memiliki ketrampilan, tak satupun perusahaan yang mau menampung. Terpaksa ibunya bekerja serabutan. Mulai dari buruh tani, buruh nyuci dan jenis jenis pekerjaan kasar lainnya. Itupun tidak tiap hari. Imbasnya, keluarga harus berhutang lagi demi memenuhi kebutuhan perut sekaligus membiayai sekolah Ratih dan Galih.

Kesulitan hidup keluarga Ratih makin lengkap ketika akhirnya tak ada satupun tetangga, sanak saudara dan handai taulan bersedia meminjami uang karena sudah saking banyaknya hutang. Ini pula yang menyebabkan Galih mundur teratur dari bangku sekolah dan memilih bekerja sebagai buruh demi membantu ekonomi keluarga. Ratih sendiri sempat berpikir untuk berhenti sekolah dan mengikuti ajakan tetangganya untuk bekerja sebagai TKW di luar negeri. Tapi karena ibu dan adiknya melarang dan lagi tinggal setahun lagi lulus SMA, Ratih akhirnya mengalah.

Di bulan ketiga setelah wafatnya ayah, kabar menyenangkan datang menghampiri. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil menerima ibunya sebagai karyawan di sana. Walaupun statusnya hanya karyawan kontrak, tapi itu jauh lebih baik daripada menjadi buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Tapi sayangnya, pekerjaan itu hanya di lakoni kurang dari sebulan. Akibat kelalaian petugas instalasi listrik, pabrik tempat ibunya bekerja terbakar habis tanpa sisa.

Kandas sudah harapan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Bukan hanya kehilangan harapan, tapi gaji selama ibunya bekerja juga tak di bayar. Langit seolah runtuh menimpa atap rumah reot keluarga Ratih. Namun di saat kondisi rumah tangga serba sulit, ibu Ratih sepertinya tak pernah kehilangan semangat untuk terus berjuang.

Tak rela anak anaknya terlantar, ia pergi ke kota demi mencari pekerjaan. Ratih sendiri tidak tahu persis dimana ibunya bekerja dan apa yang di kerjakan di sana. Yang Ratih tahu, sang ibu pergi pagi pagi sebelum ia dan Galih terbangun dan pulang menjelang tengah malam. Itu di lakukan hampir setiap hari tanpa ada hari libur yang pasti.

Walaupun resikonya, Ratih dan adiknya menjadi jarang sekali bertemu sang ibu, akan tetapi pekerjaan baru yang di lakoni orang tua tunggalnya memberikan penghasilan yang cukup. Terbukti, selain kebutuhan dapur dan sekolah Ratih tercukupi, hutang hutang keluarga pada orang banyak, sedikit demi sedikit mulai bisa di bayar.

Malapetaka itu datang ketika  sepulang sekolah Ratih mampir di warung mbok Sri untuk membeli makanan. Tanpa di sengaja, ia menguping pembicaraan para pelanggan di warung mbok Sri.

“Yani sekarang pintar nyari duit ya…” salah seorang pengunjung  pria dengan usia kurang lebih 30an tahun membuka cerita di hadapan pengunjung lain.

Ratih yang duduk di pojokan sembari mengantri untuk di layani awalnya tak terlalu berpikir macam macam ketika nama ibunya di sebut. Bisa jadi Yani yang di maksud bukan Yani ibunya. Sebab nama itu sudah menjadi nama umum dan di pakai banyak orang.

“Yani yang mana, Sur ?” tanya pengunjung lain.

“Halah…itu loh. Jandanya kang Irwan” sahut lelaki pertama yang di panggil dengan sebutan Sur.

“Ibuku ???” guman Ratih dalam hati.

Ya, tak salah lagi. Irwan adalah nama almarhum ayah Ratih. Jika tidak salah orang, bisa di pastikan Yani yang sedang di perbincangkan pengunjung warung mbok Sri itu adalah Yani ibunya.

“Oalah…anaknya mbah Imam tho ?”.

“Tak salah lagi….” batin Ratih mulai berdebar debar.

“Darimana kamu tahu dia pintar nyari duit, Sur ?”.

“Tahulah” lelaki bernama Sur itu menaikkan sebelah kakinya ke atas kursi panjang tempatnya duduk. Dengan raut muka serius dan suara sedikit di rendahkan ia berkata,

“Aku sering memergokinya di antar pulang oleh laki laki. Nggak tanggung tanggung, No “kata Sur menyebut nama penanyanya, “nganternya pakai mobil. Gila nggak ?. Trus gonta ganti loh yang ngantar. Tapi kadang ada yang ngantar pakai motor juga”.

“Beneran kamu, Sur ???” No setengah tak percaya.

“Sumpah, No. Malahan pernah yang nganter anaknya masih SMA. Tanya Arif deh kalau nggak percaya. Tuh saksinya ada” sambil menunjuk ke arah pria gemuk yang asyik menyruput kopi di pojokan.

“Betul, No” pria bernama Arif itu menyahut, “udah gitu dandanannya menor pula. Apa nggak mencurigakan tuh ?”.

“Mencurigakan gimana ?” si No belum paham apa yang di maksud kedua rekannya.

“Yaaaah…jangan jangan dia kerja nggak bener di kota. Siapa tahu…”.

“Kerja njablay maksudmu, Rif ?”.

“Yaelah Parno….Parno. Jadi orang tuh mbok yo pengalaman dikit tho” ledek Sur.

“Kalau perempuan suka pulang malam, trus di antar macem macem lelaki, berdandan menor. Apalagi kalau bukan jablay….”.

***************

Ibuku jablay ?

Ratih menghempaskan tubuhnya di atas tikar plastik yang melapisi tempat tidurnya. Obrolan para pelanggan warung mbok Sri beberapa saat lalu benar benar membuatnya terpukul. Bagaimana tidak, sejak kecil Ratih mengenal ibunya sebagai sosok wanita pendiam, lugu, penyabar, setia dan begitu mencintai ayahnya. Jangankan melakukan pekerjaan bejat seperti yang di tuduhkan para pria itu, bahkan dalam setiap obrolan dengan anak anak, ibunya tak pernah sekalipun menyinggung masalah laki laki. Bukan karena tidak ada lagi lelaki yang bersedia menikahi ibunya. Kalau masalah itu, sudah tak terhitung jumlahnya para pria lajang, duda maupun yang masih beristri mengutarakan niat melamar ibu Ratih. Bahkan ketika ibunya tidak lagi bekerja di pabrik tekstil, sempat juga anak kepala desa yang juga salah satu pejabat kabupaten berniat melamar ibunya. Tapi ibunya menolak. Padahal kalau mau, hidup keluarga Ratih sudah pasti di jamin berkecukupan.

Alasan ibu sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin mencurahkan segenap perhatian pada anak anaknya. Lagi pula dengan suaminya yang baru, belum tentu perlakuannya sama dengan almarhum suaminya.

“Jadi omong kosong kalau ibuku….”.

Ratih menangkupkan kedua tangannya ke muka. Batinnya marah, hatinya memberontak, pikirannya berusaha keras mengingkari setiap fakta yang di ceritakan para pria di warung mbok Sri. Tapi lagi lagi ia meragu. Ia tahu ibunya tidak memiliki ijazah sekolah tinggi yang memungkinkannya mendapatkan pekerjaan dengan gaji layak. Paling banter  penjaga toko atau malah buruh cuci di kota. Artinya, sangat tidak mungkin bagi ibunya, berani menghambur hamburkan uang hanya untuk membayar pengantarnya yang konon memakai mobil pribadi kalau cuma penjaga toko bahkan buruh cuci.

“Lalu darimana ibu mendapatkan begitu banyak fasilitas dan uang…???.

“Jangan jangan apa yang di katakan orang orang di warung mbok Sri benar adanya ?”.

Pertanyaan demi pertanyaan terus menyiksa pikiran Ratih. Pelan tapi pasti, kepercayaan pada sang ibu mulai tergoyahkan. Sosok ibu yang sekian lama sudah ia anggap sebagai perwujudan Tuhan di muka bumi. Yang kasih sayangnya tak pernah lekan di makan zaman, yang keteladanannya menjadi contoh bagi anak anaknya, dan kesetiaannya tiada bandingan, kini perlahan terkikis oleh prasangka. Bahwa ibunya ternyata tak lebih dari seorang perempuan murahan yang rela melakukan hal hal yang di larang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sebagai seorang anak yang sejak kecil di didik soal moralitas, agama dan etika, tentu keadaan itu bagi Ratih tak ubahnya seperti noktah hitam yang melekat kuat di mukanya. Yang harus ia sandang kemanapun ia pergi.

Ratih makan dari hasil kerja haram

Ratih sekolah dari hasil ibunya menjual diri

Ratih anak jablay…

Ratih….

“Gila!!!!” raung Ratih di bilik kamar nan sempit itu.

Kemarahan dan kekecewaannya pada sang ibu makin lama makin tak bisa ia bendung. Hatinya berontak, pikirannya kacau, batinnya merana. Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya, mengumpulkan segenap kekuatannya lalu berlari mencari adik tercintanya.

“Ikut aku!” kata Ratih dengan nada setengah memaksa.

“Kemana ?” tanya Galih yang masih asyik menikmati makanannya.

“Ke tempat kerja ibu!”.

“Ngapain ?. Khan nanti juga pulang ??” sanggah Galih dengan mulut masih di penuhi nasi.

“Udah, nggak usah bayak tanya !!!” bentak Ratih tak ingin berlama lama.

Sejenak Galih meletakkan bungkusan di tangannya. Berjalan gontai mendekati Ratih.

“Ambil sepedanya, cepeeettt….”.

“Iiiiya…iya….!”.

Tanpa berani membantah lagi, Galih segera mengambil sepeda butut satu satunya yang tiap hari di pakai Ratih ke sekolah itu. Kedua kakak beradik itu tak lama kemudian berboncengan menyusuri jalan berbatu desa Randu, melewati warung mbok Sri, memotong jalan dengan menaiki perbukitan kecil di sebelah barat desa Randu, menyeberangi sungai besar dengan menaikki perahu rakit, dan terus mengayuh sepedanya ke selatan.

Rute yang sulit memang. Tapi Ratih tak punya pilihan lain. Sebab, jika melewati jalanan yang biasa di lalui angkutan umum ia harus menempuh jarak lebih panjang dan memutar. Waktu yang di tempuh sudah pasti akan lebih lama. Mau naik angkutan umumpun sia sia, karena angkutan yang menghubungkan desanya ke kota hanya beroperasi sampai siang hari.

Walaupun persisnya Ratih tidak tahu, tapi dulu ia pernah mendengar ibunya mengatakan kalau ia bekerja tak jauh dari pasar raya. Ibu Ratih juga sempat bilang kalau ia di kenal oleh beberapa satpam yang bertugas di pasar itu.

“Berhenti dulu, Ga!” kata Ratih sembari melompat turun.

Kedua bersaudara itu kemudian memarkir sepedanya di trotoar, mencari tempat duduk di bawah pohon palem yang berada di pinggir jalan dan melepas lelah sejenak setelah hampir dua jam duduk di atas sepeda.

“Pasarnya ramai ya, mbak ?” kata Galih terkagum.

Seumur hidup, inilah pertama kalinya Ratih dan Galih datang ke kota. Ada rasa senang, karena suasananya jauh berbeda dengan kampung halaman mereka. Kendaraan yang lalu lalang tanpa henti keluar masuk, gedung pasar yang  megah, pelayan pelayan yang cantik cantik lagi berbusana elok. Sebuah pemandangan manusia yang sangat kontras, jika di bandingkan dengan Ratih dan Galih. Yang satu masih mengenakan seragam sekolah, satunya lagi berpakaian dekil dan lebih mirip pemulung.

“Kita tanya satpam dulu, Ga” Ratih menarik tangan adiknya dan berjalan tergesa ke sebuah pos satpam yang terletak di pintu masuk pasar.

“Pak, mau numpang nanya nih” kata Ratih memberanikan diri.

“Kenapa, dik ?” seorang pria berkumis dengan badan tegap bertanya.

“Bapak kenal Bu Yani nggak ?”.

“Yani siapa ?” masih belum mengerti.

“Rambutnya panjang lurus, badannya ramping, ada tahi lalat di dagunya, pak. Kami anaknya bu Yani” Ratih menerangkan.

Satpam pasar itu berpikir sejenak.

“Oooohhhh…Yani Suryani maksud adik?”.

“Betul, pak!” Ratih kegirangan.

“Kalau jam segini dia sudah nggak di sini dik”.

“Loh, emangnya ibuku sering di pasar ini ?” Ratih heran.

“Iya, Yani kalau pagi hingga siang kerja cleaning service di pasar ini. Tapi kalau siang, nggak di sini”.

“Cleaning service ?. Tukang sapu ?” batin Ratih.

“Trus, sekarang kemana pak ?”.

“Mmmmm…kalau siang dia ke sana tuh!” kata si satpam sambil menunjuk ke sebuah gedung di seberang jalan.

“Ngapain di sana pak ?” Ratih penasaran.

Di lihat jauh, gedung itu lebih mirip rumah biasa. Tapi dari aktifitasnya, ada yang sedikit aneh. Di halaman depan terdapat taman, pepohonan rindang lengkap dengan tempat tempat duduk untuk bersantai. Beberapa mobil terparkir di sisi kiri. Dan yang paling mencengangkan, di sana terdapat belasan wanita wanita cantik dengan pakaian seksi sedang duduk mengobrol satu dengan yang lain.

“Aneh” pikir Ratih.

“Mereka jualan” sahut pak satpam.

“Jualan?” kata Ratih terperanjat.

“Iya, jualan. Cepetan cari ibu kalian kesana. Semoga saja belum berangkat jualan…” kata sang satpam enteng.

Edan!!!. Otak Ratih makin tak karuan. Pembicaraan para pelanggan warung mbok Sri kembali terngiang di telinga Ratih. Apa yang ia lihat di rumah besar dengan belasan wanita cantik di sana makin menguatkan dugaan dan kecurigaan Ratih. Bahwa ibunya memang ‘jualan’ diri.

“Ayo kesana, Ga!”.

Tanpa mengucapkan terima kasih pada satpam pasar yang memberitahunya, Ratih sekonyong konyong menarik tangan adiknya dan melangkah buru buru menyeberangi jalan raya. Begitu sampai di trotoar depan rumah besar itu, mata Ratih segera mencari cari.

“Itu ibu…” teriaknya ketika melihat sosok wanita yang sangat ia kenal sedang mengobrol dengan seorang pria muda di samping sebuah mobil warna hitam yang terparkir di sisi kiri rumah.

“Ngapain ibu sama laki laki itu ?” kata Galih mengerutkan keningnya.

“Mungkin itu langganan ibu!” kata Ratih kecut.

“Sudah, kita temui saja!”.

Segeralah ia dan adiknya berjalan mendekati sosok wanita berpakaian seksi, berdandan menor yang tampak terkaget begitu mengetahui kedatangan anak anaknya.

“Ratih….Galih….??” sambut Yani tak percaya.

“Ratih mau bicara…” ucap Ratih dengan raut muka masam.

“Sebentar ya, mas”.

Ketiganya kemudian berjalan ke luar halaman, menuju sebuah tempat yang relatif sepi.

“Kenapa kalian….”.

“Nggak usah banyak ngomong deh” potong Ratih sambil melotot tajam ke arah ibunya.

“Ibu jualan khan ???” todongnya tanpa basa basi.

“Maksud kamu apa sih, sayang ?” Yani kebingungan dengan tingkah anak sulungnya yang tak bersahabat.

“Ibu dandan seksi seperti ini, mau jualan khan ?” Ratih lebih keras.

Yani makin tak habis pikir kenapa anaknya mendadak bersikap tidak ramah terhadap dirinya.

“Iya, ibu jualan. Emang kenapa ?” mencoba menenangkan.

“Pantasss…..” desis Ratih dengan senyum sinis penuh kebencian.

“Pantas gimana, Ratih ?”.

“Jangan pura pura bodoh gitu deh” sungut Ratih makin menjadi jadi.

“Ratih nggak nyangka. Ibu ternyata selama ini menafkahi anak anaknya dengan duit haram. Dari hasil pekerjaan yang menjijikkan…!”.

“Ratih…..????”.

“Ratih nggak mau punya ibu pelacur!”.

“Apa kamu bilang Ratih ?” janda beranak dua yang umurnya sekitar 35 tahun itu terperanjat kaget. Apa yang baru saja ia dengar dari mulut anak tercintanya benar benar membuat Yani tak habis pikir.

“Darimana kamu dengar berita fitnah itu ?” sergap Yani.

“Semua orang sudah tahu, bu…” sahut Ratih garang.

“Itu fitnah!!!”.

“Aku lihat sendiri…” tak mau kalah.

“Orang orang kampung juga banyak yang tahu ibu pulang di antar laki laki hidung belang…”.

“Ratih….?”.

“Kamu salah, sayang…” kata Yani segera tahu apa yang menjadi pangkal sebab salah paham Ratih terhadap dirinya.

“Ibu yang salah!” Ratih terus melawan.

“Dengar dulu penjelasan ibu, sayang…”.

Kali ini Yani menggamit pundak Ratih. Tapi secepat kilat Ratih menepis kedua tangan ibunya.

“Cuihh!!!”.

“Hehhhh…!. Kalian bisa diam dan dengarkan cerita ibu tidak ??. Heh ?” Yani yang tak mau kesalah pahaman itu terus berlarut larut membentak keras seraya berkacak pinggang. Kedua bola matanya melotot tajam setengah mengancam.

Gentar juga Ratih melihat reaksi ibunya yang begitu keras . Remaja kelas III SMA itu terdiam.

“Dengar penjelasan ibu” kata Yani menurunkan nada suaranya.

“Apa yang kalian sangkakan kepada ibu itu salah besar. Kamu lihat papan nama itu…” Yani menunjuk sebuah papan nama yang terpampang di depan rumah besar tempat berkumpulnya para wanita cantik di sana.

MESS SALES PROMOTION GIRL “LESTARI”

“Ibu bekerja di sini. Sebagai sales. Kerjaannya mempromosikan produk produk perusahaan ke pasar, kantor, bazaar bazaar dan event event. Ini kerjaan freelance. Gajinya sih nggak seberapa. Tapi cukup untuk menambah penghasilan sebagai tukang sapu di pasar” terang Yani.

Ratih bengong.

“Ibu sebenarnya nggak suka bekerja dengan memakai pakaian begini. Tapi ibu terpaksa, Ratih. Nggak ada kerjaan lain. Hutang kita banyak. Kebutuhan kalian juga besar”.

Ada rasa sesal menggelayut di benak Ratih. Apa yang selama ini ada di otaknya mengenai sang ibu ternyata jauh dari kenyataan.

“Soal ibu di antar pulang oleh laki laki, itu karyawan di sini juga. Nggak Cuma ibu. Para sales di sini di antar rame rame kok ke rumah masing masing. Jadi nggak perlu berpikir macam macamlah”.

“Tapi kenapa nganternya nggak sampai depan rumah, bu ?” kali ini suara Ratih jauh lebih bersahabat.

“Ibu, nggak ingin tetangga tahu, trus nanti berpikiran yang nggak nggak. Itu saja”.

Ratih mengangguk dan mulai mengerti. Di raihnya pinggang sang ibu, lalu ia rebahkan kepalanya di atas dada Yani.

Ibuku memang luar biasa…

Ketika semua orang ragu

Dia tetap berlari tanpa jemu

Ketika semua orang menganggapnya lemah

Ia terus membuktikan dan tak kenal lelah

Ketika semua orang putus asa

Ia hadir membalut luka



(Cerita pendek ini kami persembahkan untuk para ibu yang selama ini bertarung sendirian menghadapi hidup. Untuk anak anak yang di tinggalkan ayahnya dan untuk semua orang yang menyanyangi ibunya)