Theme images by Storman. Powered by Blogger.

PKBIB di Tengah Kegalauan Nahdliyin


Kartini Syahrir dan Yenny Wahid
Pict : analisadaily.com

oleh Mohammad Hafidz Atsani

Akhirnya, partai besutan Yenny Wahid dan Kartini Syahrir (PKBIB) lolos verifikasi administrasi KPU. Dan selangkah lagi berpeluang ikut bertarung di 2014. Ada suara suara optimis, setidaknya ini tergambar dari sekian banyak loyalis Gus Dur yang sejak sekian lama harus berada di sisi luar blantika perpolitikan tanah air. Kehadiran PKBIB seolah klimaks dari sebuah perjuangan panjang dalam meneruskan apa yang di klaim sebagai cita cita politik Gus Dur. Sementara itu, tidak sedikit rupanya, nada nada suara minor dalam menanggapi kehadiran partai baru yang merupakan gabungan dari PKB Gus Dur dan PIB ini. Beberapa pihak masih merasa gamang, apakah keputusan Yenny Wahid untuk membuat kendaraan politik ini akan berimplikasi positif atau justru malah menjadi bumerang, mengingat bahwa ternyata PKBIB tidak sendirian sebagai partai yang memiliki basis Nahdliyin. Tak sedikit malah yang pesimis dan khawatir bahwa tindakan itu akan makin menyeret lebih jauh konflik politik antar warga NU. Lebih berbahaya lagi, jika kemudian konflik ini membawa konsekuensi serius bagi NU secara organisasi.

Kami kira kekhawatiran itu sah sah saja. Mungkin saja mereka banyak belajar dari rentetan konflik yang melanda partai berbasis NU, terutama PKB, yang akhirnya membuat rumah politik NU kian hari kian memprihatinkan. Terus turun dari pemilu ke pemilu dan akhirnya hanya meraup angka kurang dari 6% di Pemilu 2009. Lantas apa jadinya jika kemudian lahir lagi parpol yang merupakan bentukan warga NU ?. Bisa jadi suara yang tersisa akan makin tergerus atau mungkin lama kelamaan akan punah dengan sendirinya.

Namun demikian, bagi penulis pribadi, kekhawatiran itu terasa berlebihan. Apalagi jika kemudian di hubungkan dengan eksistensi NU sebagai organisasi. Kenapa ?. Banyak pelajaran sejarah yang bisa kita petik dari dinamika politik warga NU selama ini. Warga NU telah terbiasa dengan perbedaan. Tidak hanya di era reformasi saja, bahkan sejak sejak Partai NU di paksa merger dengan beberapa partai Islam lainnya oleh orde baru, tradisi berbeda partai sudah menjadi sesuatu yang biasa. Bahkan dalam muktamar Situbondo 1984, NU malah menegaskan sikap politiknya untuk kembali ke khittah dan menyerahkan pilihan politiknya secara bebas kepada warganya. Dan sejauh yang kami tahu, tindakan itu tidak membuat NU tenggelam lalu kehilangan pengaruh.

Populasi warga Nahdliyin di seluruh Indonesia menurut lembaga lembaga survey adalah sekitar 33%. Sebuah angka yang cukup besar. Dan konon menjadi ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia. Akan tetapi angka yang demikian besar ini ternyata tidak berkorelasi dengan perolehan suara dari partai partai berbasis NU. Bahkan kalaupun di gabung (PPP, PKB, PKNU dan sebagainya), suara partai partai itu masih jauh dari massa riil NU. Ini saja sudah menandakan bahwa sesungguhnya warga NU sudah terbiasa berada di mana mana.
 Banyak dari kita yang berandai andai, kalau NU bersatu, partai NU pasti menang!. Bagi penulis, ini seperti mimpi indah di siang bolong. Di samping faktanya NU pernah menjadi parpol dan tidak sanggup mengungguli partai nasionalis, pandangan itu secara tidak langsung  berusaha menyamakan NU dengan organisasi organisasi keagamaan lainnya yang juga berfungsi sebagai gerakan politik semisal HT, IM dan lain sebagainya. Dan bukan sebagai gerakan kultural. Maka semangat untuk menjadikan NU sebagai symbol kekuatan formal (politik-red) kami kira justru malah mengingkari khittah NU sendiri sebagai organisasi keagamaan yang bersifat kultural.



Ada konsekuensi logis yang akan di terima NU jika memang ormas ini memaksakan diri untuk mengambil peran lebih banyak dalam politik. Bagaimanapun NU adalah organisasi agama, yang tentu saja sedikit banyak akan menyeret nama Islam. Jika NU ataupun warganya di paksa bersatu dalam sebuah wadah politik, bukankah tindakan ini tidak jauh beda dengan HT, IM, AKP atau mungkin Syiah di Iran dan juga Wahabi di Saudi ?. Nanti akan muncul fatwa fatwa dari para ulama NU, bahwa warga NU yang tidak mendukung partai NU di cap bukan NU. Lebih parahnya lagi kalau di cap bukan Islam. Toh, sudah mendeklarasikan kembali ke khittah alias tidak berpolitik praktispun, masih ada ulama NU yang bicara kebablasan dengan mengatakan bahwa warga NU ‘wajib’ memilih partai ‘bentukan’ NU.



Menyikapi keberadaan PKBIB,  seharusnya warga NU tidak perlu cemas. Bahwa itu akan makin membuat NU porak poranda. Sejak 1984 hingga sekarang bukankah NU sudah menyatakan tidak berpolitik ?. Jadi apanya yang porak poranda ?. Apanya yang pecah ?. Mungkin yang berpotensi pecah suara PPP atau PKB. Tapi itu bukan NU.



Ada baiknya kita apresiasi. Makin banyak warga NU yang membentuk parpol, menandakan tingkat melek politik warga NU makin besar. Dengan aturan yang ada, tidak mudah membuat sebuah parpol dan ikut serta dalam pemilu di Indonesia. Banyak persyaratan yang mesti di penuhi. Misalnya 100% kepengurusan di tingkat Provinsi, 75% kepengurusan di kabupaten/kota dan 50% kecamatan. Ini belum lagi harus memiliki kantor, rekening, keanggotaan 1/1000 pemilih dan masih banyak lagi. Semua persyaratan harus lengkap, dan bisa di buktikan. Sekali lagi, bukan sesuatu yang mudah.



Jadi kalaupun PKBIB lolos dan ikut pemilu, patut kita syukuri bersama. Bahwa ternyata, makin banyak warga NU yang punya kemampuan membentuk sebuah parpol dan ikut ambil bagian dalam perpolitikan tanah air. Lalu apakah semakin banyak partai bentukan warga NU, akan semakin melemahkan mereka ?. Belum tentu juga. Kalau mereka hanya berkutat memperebutkan suara warga NU yang memang sudah cair, bisa jadi akan makin kecil. Tapi kalau kreatif dan berani keluar kandang dengan mencoba peruntungan di luar basis awal, bisa jadi akan lebih besar dari yang pernah di peroleh partai partai berbasis NU terdahulu. Apalagi karakter pemilih kita bukanlah tipe pemilih loyal. Angka golput dan angka massa mengambang masih cukup besar (mungkin 50%). Jadi kenapa masih ketakutan tidak memperoleh dukungan ?.



PKBIB, walaupun belum jelas seperti apa sepak terjangnya, dari awal pembentukan sudah terlihat bagaimana kemauannya untuk bermain ke luar kandang NU. Di sana ada unsur PPIB (Partai Perhimpunan Indonesia Baru) yang sama sekali tidak berbau NU. Karakter plural dan tidak sekedar mengandalkan suara NU seperti ini jika di olah dengan baik, bukan tidak mungkin akan membuka kesempatan untuk menang pemilu. Dan partai apapun kalau mau menang memang mesti banyak bermain di irisan pemilih terbesar. Yaitu pemilih tengah.



So, selamat datang PKBIB…

Semoga selain garang di kandang, juga tangguh di luar kandang…