Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Gusdurian, Ancaman buat PKB ?


Oleh : Komandan Gubrak

“Aksi dukungan kpk hari ini digedung kpk jam 2 siang bareng mba anita wahid putri gusdur dan para tokoh2 anti korupsi,silahkan hadir”

Siang ini selepas shalat Jum’at, handphone saya tiba tiba berbunyi. Seorang kawan dari komunitas Gusdurian mengajak saya untuk ikut bergabung dalam aksi mendukung KPK dalam upaya pelemahan oleh berbagai pihak. Di sana ada mbak Anita Wahid, ada Gusdurian, ada kawan kawan gubraker, aktifis aktifis anti korupsi dan tokoh tokoh yang selama ini konsen terhadap isu pemberantasan korupsi. Sebenarnya saya sudah bersiap untuk berangkat (sudah mengenakan kostum kebesaran berwarna hitam pula. Ha ha ha), tapi mendadak batal karena ada tugas keluarga yang tak bisa di tinggalkan. Yah…mau gimana lagi ?.

Tulisan ini tidak di maksudkan untuk mengulas fenomena pelemahan KPK oleh berbagai pihak. Kami akan mencoba fokus pada apa yang di sebut kelompok atau komunitas ‘Gusdurian’. Sebuah gerakan yang mengambil nama dari salah satu tokoh besar Indonesia, ikon pluralisme, ikon demokrasi, tokoh penting NU, Presiden ke 4 RI, dan seabrek gelar yang di sematkan atas dedikasinya untuk bangsa dan dunia. Gus Dur.

Menurut Alissa Wahid, Gusdurian adalah sebutan bagi sahabat, murid, pengagum dan pecinta almarhum Gus Dur. Mereka datang dari berbagai lapisan masyarakat, lintas agama, lintas suku dan lintas golongan yang kemudian di satukan oleh satu ide. Yaitu cita cita Gus Dur. Maka, layaknya seorang Gus Dur yang sangat multikompleks, pola gerakan kelompok Gusdurian ini juga cukup cair. Mereka tidak memfokuskan atau mengidentifikasikan diri pada satu pola gerakan tertentu saja. Ada bermacam macam kelompok Gusdurian. Ada yang bergerak di bidang budaya, nasionalisme, kebangsaan, isu isu politik, hingga bidang ekonomi. Nama komunitasnyapun macem macem. Ada komunitas Gitu Aja Kok Repot, ada Gusdurian daerah A, daerah B, Gusdurian Enterpreunership dan sebagainya. Bahkan penulis sendiri bersama kawan kawan sesama pecinta Gus Dur lainnya sejak 2-3 tahun juga membentuk sebuah komunitas. Gubrak Indonesia. Walaupun tidak spesifik kami menyebut diri sebagai Gusdurian, akan tetapi komunitas ini banyak sekali terinspirasi oleh ide ide Gus Dur. Yaitu, nasionalisme, kebangsaan, pluralisme dan kesetaraan.

Awalnya banyak yang menyangsikan, apakah gerakan ini (Gusdurian) benar benar mampu mengemban cita cita Gus Dur yang luar biasa besar ?. Ataukah gerakan itu hanya menjadi euphoria sesaat yang ketika waktu berjalan akan hilang dengan sendirinya ?. Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah anggapan sebagian pihak yang menuding bahwa komunitas Gusdurian di bentuk hanya untuk menjadi batu loncatan bagi kepentingan kepentingan politik tertentu. Tak ubahnya seperti ormas Nasdem yang di kemudian hari fungsinya bergeser dan bermetamorphose sebagai parpol.

Untuk yang terakhir ini, kami juga berpikiran seperti itu. Gusdurian hanyalah gerakan politik terselubung yang di manfaatkan oleh pihak pihak tertentu. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, anggapan anggapan minor itu satu persatu mulai terpatahkan. Dari statemen statemen anak anak Gus Dur, baik secara langsung maupun melalui media massa, kami menangkap begitu jelas pesan dan visi Gusdurian sebenar benarnya. Bahwa ini adalah murni media untuk merajut dan menjahit para pengagum, penerus maupun pecinta Gus Dur. Simak statemen Inayah Wahid yang kami ambil dari sebuah media online ini.

“"Dari awal kita sudah berkomitmen Gusdurian bukan wadah berpolitik. Untuk itu, sudah ada PKBN, ternyata PKBN tidak diloloskan dengan alasan yang tidak jelas," kata Inayah ketika ditemui jelang doa bersama lintas agama di Buddhist Education Centre (BEC) Surabaya, Jalan HR Muhammad, Kamis

Inayah menambahkan, Gusdurian tetap berkomitmen untuk menjadikan komunitas ini tetap bergerak di sosial kemasyarakatan dan tetap menjaga nilai-nilai ajaran Gus Dur. Nilai-nilai itu adalah ajaran untuk menjaga perbedaan, persatuan dan kerukunan.

Secara politik, Gusdurian ini berkembang alamiah dan menjadi pilihan pribadi para Gusdurian. "Kita tidak mau bilang tidak berpolitik tapi ternyata malah terjun ke dunia politik. Di Gusdurian politik lebih pada persoalan personal saja. Bebas dan tidak terikat dalam satu aturan yang ketat," katanya.

Inayah mengaku, terjun ke dunia politik sangat menguras tenaga dan pikiran seperti yang dilakukan oleh mediang Gus Dur dan Kakaknya Yenni Wahid. "Saya, mbak Anita dan Mbak Alissa sudah menumbalkan Mbak Yeni untuk terjun ke dunia politik. Capek ngurusin politik apalagi di Indonesia. Lebih enak ke bidang sosial dan kemasyarakatan seperti Gusdurian saat ini," katanya. (Okezone.com)


Menurut pengamatan penulis, ada semacam proses pembagian tugas di antara anak anak Gus Dur. Dan tentu saja di sesuaikan dengan kemampuannya masing masing. Seperti yang di nyatakan oleh putri bungsu Gus Dur (Inayah Wulandari Wahid), yang berpolitik praktis sebenarnya hanya mbak Yenny Wahid, sementara yang lain lebih konsen ke masalah sosial kemasyarakatan. Seperti Alissa, Anita dan Inayah sendiri.

Di Jakarta sendiri misalnya, ada event Gusdurian yang rutin di gelar setiap Jum’at pertama. Sebuah ajang diskusi dan berkumpul bagi para Gusdurian yang rasa rasanya sangat jauh dari nuansa kepentingan politik. Temanya bermacam macam. Soal korupsi, terorisme, ekonomi, sosial, budaya, bedah buku atau kadang hanya sekedar nonton bareng. Di hadiri oleh narasumber yang berkompeten (bahkan sejak saya gabung di diskusi itu, belum pernah loh ketemu mbak Yenny di situ) dan di ikuti lebih puluhan bahkan ratusan Gusdurian dari berbagai wilayah di Jakarta. Bertempat di kantor Wahid Institute, Matraman Jakarta Pusat.

Untuk urusan politik, sejauh pengamatan kami tidak ada istilah di arahkan untuk berafiliasi pada kelompok politik tertentu. Saya sendiri bahkan belum pernah mendengar mbak Yenny atau siapa saja misalnya, meminta Gusdurian untuk mendukung partainya atau mendukung calon tertentu. Bahkan yang terjadi di lapangan justru inisiatif akar rumput sendiri. Misalnya dalam kasus dukungan Gusdurian terhadap cagub DKI. Jauh hari sebelum mbak Yenny Wahid bilang ke media bahwa Gusdurian mendukung Jokowi, Gusdurian di akar rumput sudah lebih dulu mengorganisasikan diri, membiayai sendiri dan bergerak sendiri . Tanpa di instruksi, tanpa fatwa, tanpa di perintah, bahkan tidak perlu memberitahukan sikap politiknya.

Jadi kalau ada tuduhan bahwa Gusdurian itu skoci politik, bahkan di anggap sebagai ancaman bagi partai tertentu seperti yang di beritakan di bawah ini :

Adanya kelompok tertentu yang mengklaim sebagai Gusdurian tampaknya menjadi isu penting yang berpotensi akan menggangu perolehan suara bagi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Demikian mengemuka dalam acara Konsolidasi Pemenangan Pemilu 2014 yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur bersama seluruh pengurus cabang dan kader PKB Se-Jatim, di Kantor Balai Diklat Surabaya, Sabtu (4/8) sore.

Pasalnya, PKB yang sekarang dinilai tidak sama dengan PKB Gus Dur yang memiliki basis warga nahdliyin.

Karena itu, Sekretaris Jenderal DPP PKB H Imam Nachrawi, meminta seluruh kader PKB di Jatim untuk terus selalu melakukan silaturahmi dengan para tokoh NU atau kyai di daerah masing-masing.

"Jawa Timur adalah basis pesantren dan warga NU. Ini kekuatan PKB yang harus tetap dijaga," kata Imam Nachrawi dihadapan ratusan kader PKB Se-Jatim.

Kendati memiliki hubungan simbolis dengan NU dan pesantren, PKB harus semakin intensif dalam membangun komunikasi dengan kalangan pesantren. Pasalnya, pesantren besar yang memiliki jaringan luas dinilai berafiliasi dengan parpol lain. (http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/20166/gusdurian-tantangan-berat-bagi-pkb)


bagi Gusdurian, kekhawatiran PKB itu mungkin terlalu berlebihan. Kalaupun nanti mereka kalah atau mungkin habis di 2014, itu semata mata kesalahan mereka sendiri. Logikanya simple saja, kalau bagus, pasti di dukung. Kalau tidak bagus, ya di tendang. Gitu aja kok repot….