Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Banowati Selingkuh (Part 10)

Sebuah perjalanan yang tak mudah. Setidaknya untuk mencapai Widarakandang, mereka memerlukan waktu kurang lebih 7 hari. Selain jaraknya yang cukup jauh, medannya juga di kenal cukup sulit. Wilayah Mandaraka, terutama bagian barat adalah sebuah wilayah tandus lagi gersang. Sebagian besar merupakan hamparan padang pasir nan luas. Para penduduk sering menyebutnya Kawah Geni (medan api). Sebuah kawasan yang suhu udaranya sangat panas di siang hari, dan sangat dingin di malam hari. Minim mata air atau oase dan juga jarang di temui adanya pemukiman. Jarak antara oase satu ke oase yang lain membutuhkan waktu seharian perjalanan dengan kuda, bahkan ada pula yang jauhnya sehari semalam perjalanan. Itupun tak semua mata air sanggup memancarkan airnya sepanjang tahun. Butuh keahlian khusus untuk mendeteksi keberadaan mata air dan pemukiman penduduk. Pengembara yang tidak berpengalaman melintasi Kawah Geni jangan terlalu berharap bisa keluar dengan selamat dari daerah gersang ini.

Bagi Permadi, ini adalah kedua kalinya ia melintasi Kawah Geni. Ada rasa minder, mengingat perjalanan pertamanya melintasi Kawah Geni tidak semulus yang ia bayangkan. Bahkan ksatria Madukara ini nyaris menemui ajal akibat menderita kehausan hebat sebelum akhirnya di selamatkan oleh seorang pengembara perempuan bernama Wara Srikandhi yang kebetulan juga melewati daerah itu. Atas jasa Srikandhi yang telah menyelamatkan nyawa Permadi beserta ketiga pengawal setianya, panengah Pandawa ini kemudian mengajari Wara Srikandhi beberapa tehnik memanah. Dari sinilah sebenarnya awal perkenalan antara Permadi dan Srikandhi. Dan kelak wanita petualang ini akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Permadi.

“Ndoro, apa tidak sebaiknya kita cari jalan memutar saja. Petruk takut kejadian tempo hari terulang lagi” saran Petruk memperingatkan. Bagaimanapun ketiga pengawal pandawa ini layak khawatir jika terjadi apa apa di perjalanan. Maklum, persiapan logistik yang mereka sediakan terbilang minim. Hanya beberapa potong roti yang bahkan untuk satu orang saja masih kurang. Cadangan air juga hanya 2 kantong. Hanya cukup untuk mereka berempat sebelum mencapai oase pertama. Dan jika sewaktu waktu kuda mereka kehausan, tak ada lagi persediaan. Belum di tambah dari kemarin majikannya tidak memakan satu barang satu makananpun. Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan. Walaupun mereka tahu, tuannya adalah orang yang tahan lapar, akan tetapi berjalan di tengah terik matahari nan menyengat dengan kondisi perut kosong bukan pertanda baik. Maka, mengambil rute memutar yang walaupun lebih jauh dan lama adalah solusi yang sangat tepat. Setidaknya mereka bisa menghindari bahaya kelaparan dan kehausan.

“Benar ndoro” timpal Petruk,”sebaiknya kita menempuh jalur lain saja. Persediaan makanan kita tidak cukup”.

Permadi menarik tali kekang kudanya, yang kemudian di ikuti ketiga pengikutnya.

“Kalau takut mati, lebih baik kalian balik ke Mandaraka saja” ucap Permadi singkat yang kemudian di barengi tepukan keras pada perut kuda hitam tunggangannya. Seketika binatang berkaki empat itu melesat cepat membelah padang pasir.

“Gimana, Truk ?” tanya Bagong gelisah.

“Ya sudah. Siap siap aja di jemput Yamadipati” tukas Petruk setengah mengejek.

Dan seperti di komando, ketiganya lantas memacu kuda mereka membuntuti majikannya yang sudah jauh memasuki kawasan Kawah Geni. Hampir 2 jam ketiga anggota Punakawan ini berusaha mengejar Permadi, namun perbedaan kemampuan dalam hal menunggang kuda membuat ketiganya justru makin lama makin tertinggal jauh, hingga bayangan Permadi perlahan lenyap di telan teriknya padang pasir Kawah Geni.

“Kita ikuti jejaknya saja!” Petruk mengomandoi.

“Kenapa sih, ndoro Permadi kesetanan seperti itu ?” Bagong menggerutu.

Ketiganya kembali menggeber tunggangannya yang tampak mulai keletihan. Menjelang sore, usaha mereka mengejar sang majikan tampak menemui keberhasilan. Lamat lamat dari kejauhan kepulan debu yang di timbulkan oleh jejak kaki kuda mulai terlihat nyata. Pertanda Permadi sudah berada tak jauh dari mereka. Raut muka sumringah sontak menyembul dari wajah mereka.

“Ndoro…!!!” teriak Petruk memanggil pada sosok penunggang kuda yang mulai berada tak jauh di depan mereka.

Kuda Permadi tampak melambatkan larinya, tapi pemiliknya seolah tak mempedulikan kehadiran ketiga pengejarnya.

“Ndoro!!!” panggil Petruk begitu berhasil menjajari majikannya.

“Waduhh!” betapa terkejut Petruk manakala melihat kondisi majikannya. Permadi tampak sempoyongan di atas kuda. Wajahnya terlihat pucat dan kelelahan. Sorot matanya menunjukkan bahwa ksatria Madukara ini dalam kondisi yang sangat lelah. Secepat kilat Petruk melompat dari atas kuda tunggangannya. Segera ia meraih tali kekang kuda majikannya yang sudah terlepas dari genggaman. Dan dengan sekali tarik, kuda itu meringkik lalu berhenti.

“Kenapa, ndoro ?” tanya Gareng serta merta ikut turun dan membantu Petruk memapah Permadi yang mulai tak sadarkan diri.

“Air, Gong!”.

Bagong yang mulai menyadari bahwa Permadi dalam kondisi kritis, tergesa gesa menuangkan kantung air ke mulut Permadi.

“Bangun ndoro!” Petruk mengguncang guncang bahu Permadi untuk membuat majikannya tersadar. Tapi entah kenapa berkali kali ia berusaha, Permadi belum juga sadarkan diri. Gareng dan Bagong yang juga khawatir bukan main akan keselamatan tuannya, tak ketinggalan meraung raung membangunkan Permadi.

“Sadar ndoro!”.

“Ingat ndoro!!”.

“Bangun!”.

Segala upaya di lakukan, termasuk memasukkan remahan roti ke mulut Permadi. Tapi hingga sekian lama upaya mereka tak jua berhasil. Permadi yang terkenal garang dalam bertarung dan terbiasa tirakat, kini terlihat lemah tak berdaya. Hawa panas Kawah Geni di tambah seharian berada di atas kuda dengan perut tak terisi selama 2 hari, benar benar membuat nyawa panengah Pandawa itu kritis.

“Apa yang harus kita lakukan, Truk ?” Bagong tampak kebingungan bukan main.

Petruk menggeleng.

“Kalau sampai ndoro Permadi mati, kita bakal di murkai keluarga Pandawa. Bahkan para dewa juga bakal mengutuk kita” ucap sang Gareng ketakutan.

“Jangan ngomong sembarangan!” Petruk menasehati.

“Sebaiknya kita cari akal bagaimana bisa sampai di mata air Sendang Sari. Di sana pasti ada orang yang bisa kita harapkan untuk menolong ndoro Permadi” kata Petruk.

Sendang Sari adalah  mata air pertama di tengah Kawah Geni yang paling dekat meraka jangkau. Salah satu oase yang tak pernah henti mengeluarkan cadangan airnya sepanjang tahun. Para pengembara biasanya menggunakan kawasan Sendang Sari untuk beristirahat, mempersiapkan perbekalan dan membuat tenda sekaligus memulihkan kondisi kuda kudanya.

“Berapa jauh lagi, Truk ?” Bagong bertanya.

“Kalau kita bisa lebih cepat, selepas matahari terbenam kita akan mencapainya”.

Akhirnya, tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, ketiganya kemudian menaikkan Permadi di atas kudanya, mengikatnya di punggung kuda dan menarik binatang itu berjalan dengan hati hati menuju ke Sendang Sari.

Kecewa hati Surtikanthi. Usahanya untuk menjerumuskan Banowati gagal sudah. Ayahnya bahkan secara pribadi mengajak bicara pada Banowati tentang sesuatu yang tidak ia mengerti. Apakah terkait dengan kasus yang barusan ia laporkan, ataukah tentang hal lain. Untuk menanyakan langsung pada ayahandanya, Surtikanthi merasa tak punya keberanian. Tapi unuk bertanya langsung pada Banowati, ia juga merasa gengsi.

“Kamu yakin, Banowati keluar dari keputren bersama Burisrawa ?” tanya Surtikanthi pada adiknya, Rukmarata.

“Sebenarnya, Rukma nggak yakin kang mbok” jawab Rukmarata.

“Tapi aku tidak punya bukti lain” kilahnya.

“Tiga orang yang menghadang prajuritmu itu gimana ?” Surtikanthi menyelidik.

Rukmarata mengernyitkan dahi, pikirannya menerawang ke belakang untuk mengingat ingat kembali kejadian malam itu.

“Waktu itu kondisinya cukup gelap. Hanya ada cahaya obor yang tidak terlalu terang” Rukmarata menerangkan, “satu orang berbadan tinggi, satunya lagi gendut dan yang lain berkaki pincang. Gaya bertarungnya tidak seperti anak buah kakang Burisrawa”.

Surtikanthi terkejut. Lalu mendekatkan wajahnya pada Rukmarata.

“Kenapa kamu nggak mengatakan pada ayah ?” ucapnya menyalahkan.

“Rukma takut kalau asal tuduh” kilah Rukmarata.

“Kangmbok yang tanggung jawab!” potong Surtikanthi.

Kedua anak Salya itu terdiam. Seperti ada yang mereka sesali.

Telah lama antara Surtikanthi dan Banowati terlibat perseteruan sengit. Penyebabnya sebenarnya sangat sepele. Surtikanthi merasa iri dengan kecantikan yang di miliki Banowati. Surtikanthi merasa sakit hati, manakala Banowati yang notabene adalah adiknya, lebih banyak di elu elukan oleh rakyat Mandaraka perihal kecantikannya daripada dirinya. Faktor lain yang membuat pertentangan keduanya makin panas adalah soal siapa yang paling berhak menyandang gelar Pangeran Pati. Surtikanthi mendukung Rukmarata sebagai calon Raja Mandaraka karena adik bungsunya ini memiliki kemampuan lebih di banding kakaknya, sementara Banowati menganggap bahwa Burisrawa lebih berhak mendapatkan gelar itu, sebab ia lebih tua dari Rukmarata.

Bagi Surtikanthi, naiknya Rukmarata sebagai penerus tahta akan banyak memberikan keuntungan baginya. Setidaknya ia lebih bisa mengontrol adik bungsunya ini ketimbang harus berhadapan dengan Burisrawa yang di kenal berandalan, kampungan, susah di atur dan memiliki tabiat buruk. Jika orang seperti Burisrawa berhasil menduduki singgasana Mandaraka, tak terbayang bagaimana nasib Surtikanthi. Dan juga tak terbayang bagaimana nasib negeri Mandaraka di bawah kepepmimpinan seorang Raja yang hoby hura hura.

“Begini saja, nanti malam kita datangi Banowati. Kangmbok curiga, ayah membicarakan rencana pengangkatan pangeran pati pada Banowati” Surtikanthi membujuk Rukmarata.

“Ahh, mana mungkin ?” Rukmarata sangsi. “Bukankah negara baru berduka atas hilangnya kangmbok Herawati ?”.

“Justru itu Rukma” kelit Surtikanthi.

“Justru dengan mengangkat seorang pangeran pati, ayah ingin masalah Herawati tidak terus menerus membuat seisi kerajaan bersedih”.

“Nggak masuk akal” tukas Rukmarata.

Surtikanthi mendehem.

“Ya sudah, kalau kamu sudah tak mau menuruti kata kangmbokmu ini” tegas Surtikanthi dengan mimik dongkol.

“Bukan…bukan…”.

“Terserah kamu saja Rukma. Aku melakukan ini semua untukmu!” setelah berkata demikian, Surtikanthi lantas bangkit dan beranjak meninggalkan Rukmarata.

“Tunggu…tunggu!” kejar Rukmarata mensejajari langkah kakak perempuannya.

“Apalagi ?. Heh ?”.

“Aku ikut!”.

Surtikanthi menatap tajam ke arah adiknya, untuk memastikan kesungguhan Rukmarata. Baru setelah ia merasa yakin, Surtikanthi berkata,

“Bawa orang orangmu. Nanti malam kita paksa Banowati bicara!”.

Rukmarata mengangguk. Malam itu juga keduanya bergerak menuju kediaman Banowati dengan di kawal sepuluh prajurit pilihan. Mereka sengaja memilih malam hari karena sangat yakin Burisrawa yang tinggal tak jauh dari rumah Banowati biasanya tak pernah di rumah jika malam hari.

“Banowati!!” teriak Surtikanthi seraya menggedor pintu.

Dua orang prajurit penjaga yang bertugas mengamankan kediaman Banowati bergegas menghampiri rombongan Surtikanthi.

“Kemana majikanmu ?” labrak Surtikanthi tak sabaran.

“Gusti Banowati sedang keluar, gusti Surti” jawab salah seorang di antaranya gemetaran.

“Bohong!!!”.

“Benar gusti. Hamba tidak bohong”.

Surtikanthi melirik ke arah Rukmarata. Seperti sudah mengerti apa yang di inginkan kakaknya, Rukmarata maju mendekati penjaga kediaman Banowati itu. Dengan sekali tarik, leher prajurit itu sudah berada di genggaman Rukmarata.

“Pergi kemana kangmbok Banowati?” desak bungsu Salya itu dengan sorot mata tajam mengancam.

“Ampun gusti…! Ampun!. Uhhukk…uhhhuk..”cekikan Rukmarata kontan saja membuat sang prajurit tersedak dan kesakitan.

“Katakan terus terang!” Rukmarata melepaskan cekikannya.

Dengan nafas yang masih tersengal sengal, penjaga ini berkat, “gusti Bano sejak tadi sore keluar keputren dengan di sertai Raden Burisrawa, gusti Rukma!”.

“Kemana ?”

“Hamba kurang tahu”.

Mendengar jawaban yang tidak memuaskan, Rukmarata naik darah.

“Bangsat!!”.

Sebuah bogem mentah melayang menghajar penjaga itu, seketika penjaga rumah Banowati itu terpental dan ambruk mencium tanah.

“Tahan amarahmu, Rukma!” Surtikanthi meredam emosi adiknya.

Putri kedua prabu Salya itu berjalan ke arah penjaga yang lain dengan wajah tak kalah bengisnya.

“Mana kunci rumah gustimu ?” tanya Surtikanthi setengah memaksa.

Takut akan mengalami nasib yang sama dengan kawannya, dengan tubuh gemetar penjaga ini segera merogoh saku dan menyerahkan sebuah anak kunci pada Surtikanthi.

“Rukmarata!”

“Iya kangmbok”.

“Bawa 5 orangmu mencari kemana larinya Banowati. Yang lain tinggal di sini bersamaku menggeledah rumah Banowati!” perintah Surtikanthi.

“Siap, kangmbok!” sambut Rukmarata yang kemudian segera bergerak cepat mencari jejak Banowati.

Kurang ajar sekali Banowati. Berani beraninya dia melanggar peraturan ayahnya dengan meninggalkan keputren. Pikir Surtikanthi murka. Di bukanya pintu rumah Banowati, lima pengawalnya segera menghambur masuk untuk menggeledah seisi ruangan. Sementara Surtikanthi dengan langkah tergesa memasuki kamar Banowati yang terletak di sudut ruangan.

“Anjing!!!” maki Surtikanthi ketika menyadari tak di temuinya Banowati di kamar.

Kemana perginya Banowati ?.

Merasa tak mendapatkan buruannya, Surtikanthi bergerak ke ruangan lain. Dapur, kamar mandi hingga kebun kelapa yang terletak di belakang rumah Banowati.

“Semua ruangan sudah kami geledah, tapi tidak kami temukan gusti!” lapor salah satu pengawalnya pada Surtikanthi.

Belum sempat Surtikanthi mengatakan sepatah katapun, tiba tiba sebuah bayangan hitam meluncur cepat menuruni pohon kelapa yang berada tak jauh dari tempat dimana putri Salya itu berdiri. Gerakannya sangat cepat, hingga tak di sadari telah berada di depan Surtikanthi.

“Awas gusti!!!”.

Menyadari majikannya dalam bahaya, pengawal Surtikanthi yang berdiri tepat di belakang sosok misterius itu segera mencabut senjata dan merangsek maju guna melindungi Surtikanthi. Tapi nahas, belum sempat ia mengayunkan pedangnya, sebuah tendangan keras menghajar dadanya.

Brukk!!!

Tubuh anak buah Rukmarata itu melayang bak kapas dan mendarat menghantam batang pohon kelapa.

“Siapa kamu!” bentak Surtikanthi keras pada sosok berpakaian serba hitam, bertubuh gagah, membawa busur panah dengan muka tertutup kain berwarna hitam yang berdiri dengan tatapan mengancam ke arah Surtikanthi.

“Aku Permadi, panengah Pandawa” jawab lelaki misterius itu berjalan mendekati Surtikanthi.

“Mau apa kamu ?”

“Prajurit!!!” teriak Surtikanthi panik.

Empat prajurit dengan senjata lengkap keluar satu persatu dari pintu belakang rumah Banowati. Terkejut bukan main ke empat pengawal Surtikanthi itu melihat kehadiran manusia asing berpakaian serba hitam itu. Dan tanpa di komando secara bersamaan mereka menghunus senjata lalu menyerang sosok misterius yang berusaha mengganggu majikannya.

Trang!!!.

Benturan antar senjata tak terhindarkan. Sabetan, tusukan dan pukulan bertubi tubi mengarah ke tubuh sosok asing itu. Namun dengan sikap tenang dan terukur lelaki asing itu mengibas kibaskan busur panahnya menahan gempuran empat pengawal Surtikanthi. Kendati di keroyok oleh empat prajuri terlatih sama sekali tak membuat sosok hitam itu kewalahan.

Surtikanthi yang menyadari bahwa empat pengawalnya justru semakin di buat keteteran, segera memutar otak.

“Penculik…! Ada penculik!!!” teriaknya berusaha memancing perhatian seisi penghuni keputren.

Dan tak berapa lama belasan prajurit Mandaraka telah hadir di tempat itu. Mereka sebagian adalah penjaga kediaman Banowati, sebagian lagi adalah anak buah Burisrawa yang kebetulan mendengar teriakan Surtikanthi.

“Tangkap penjahat itu!!!” perintah Surtikanthi pada belasan prajurit yang baru tiba.

Seketika mereka segera melompat membantu empat prajurit yang sudah lebih dulu menyerang sosok hitam itu. Suasana kini makin gaduh. Teriakan kemarahan dan kesakitan susul menyusul membahana membelah sang malam. Denting senjata beradu di iringi kilatan kembang api tampak semakin banyak terlihat. Tapi hingga sekian jurus, tak ada tanda tanda sosok hitam itu bisa di takhlukkan. Yang terjadi malah satu persatu pengeroyoknya terpental keluar dari arena dengan luka pukul yang cukup serius.

“Ayo hajar!!!” teriak Surtikanthi memberi semangat. Tapi lagi lagi ia harus kecewa, karena bukan sosok hitam itu yang terjepit, justru yang terjadi semakin banyak prajurit Mandaraka yang tersungkur kesakitan.

Menyadari situasinya tidak menguntungkan, Surtikanthi segera berpikir cepat untuk kabur. Tapi sial bagi Surtikanthi, belum ia melangkah lebih jauh, sebuah tangan kekar menangkap bahunya. Surtikanthi berbalik dan berusaha melawan dengan mengirimkan pukulan yang tak seberapa kuat ke arah sosok hitam itu.

Dukk!!!

Sebuah totokan di tengkuk Surtikanthi seketika menghilangkan kesadaran putri Salya itu. Dan dengan gerakan cepat lelaki misterius itu memanggul tubuh Surtikanthi.

“Lepaskan gusti Surtikanthi!!!”.

Lima orang prajurit tersisa berlari mengejar, tapi apes buat mereka, lima mata panah meluncur deras menembus kaki dan membuat tubuh mereka limbung lalu ambruk dengan luka parah di bagian kaki.

Tanpa menunggu lama, sosok hitam itu segera berkelebat di antara pepohonan kelapa lalu menghilang dengan membawa lari Surtikanthi.

Bersambung...

Penulis : Ki Dainx Dalang Gubrak