Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Tips Menulis Ala Gubraker

Tidak ada yang istimewa dalam menulis. Kata Nasrudin, sobat Gubraker asal Yogyakarta yang juga seorang editor penerbit terkenal Jalasutra. Menulis sama saja dengan berbicara. Bedanya, ucapan itu disampaikan tidak dengan menggunakan lisan dan tampil dalam bentuk citra audio, melainkan dengan abjad yang ditata sedemikian rupa dan sampai kepada audiens dalam bentuk citra visual.

Cukup sederhana,bukan ?
Menurut penulis buku Fikih for Teens ini ada beberapa tips ringan yang insya Allah membantu anda menjadi seorang yang penulis berbakat.

Silahkan, di simak...!


#1

Mas, artikel atau tulisan yang baik itu seperti apa sih?

Pengen tahu?. Sederhana saja caranya. Berikan tulisan itu kepada kawanmu. Lalu, tanyakan pada kawanmu itu, “Tulisan ini berkata tentang apa?” Jika kawanmu itu bisa menjawabnya dengan cepat; jawabannya tidak lebih dari satu kalimat; jawaban itu juga sesuai dengan maksudmu membuat tulisan itu; maka tulisan itu cukup layak untuk disebut sebagai tulisan.


#2

Apa yang istimewa dari kegiatan menulis?

Tidak ada. Menulis tak ubahnya berbicara. Bedanya, ucapan itu disampaikan tidak dengan menggunakan lisan dan tampil dalam bentuk citra audio, melainkan dengan abjad yang ditata sedemikian rupa dan sampai kepada audiens dalam bentuk citra visual. Sesederhana itu. Jika demikian, masih ada alasan bahwa menulis itu sulit?

#3

“Mas, gimana memulai membuat tulisan? Awalnya sih banyak yang pengen dituliskan, tapi pas di depan komputer kok jadi susah begini ya?”, tanya seorang sahabat.

Hal semacam ini banyak dijumpai oleh kawan-kawan, baik yang baru belajar menulis, maupun yang cukup senior.

Ada tips sederhana untuk mengatasinya. Sebagai langkah awal, tanyakan pada diri Anda, “Saya mau menulis tentang apa?” Nah, segera tuliskan jawaban yang pertama kali muncul dari pikiran Anda. Selepas itu, selesaikan tulisan Anda. Kurang puas dengan hasil tulisan yang masih kacau? Edit saja sesukanya. Gampang ‘kan?



#4

"Mas, cara nulis artikel tentang politik, budaya, dst, gimana? 'Kan beda sama tulisan fiksi?" seorang sahabat bertanya.

Begitu ya? Menulis nonfiksi itu cukup mudah.
Pertama, tanya diri Anda, “Saya mau nulis apa?”.
Kedua, “Apa yang belum Anda ketahui tentang tema yang akan Anda tulis?”
Ketiga, kumpulkan informasi sebanyaknya, pahami, catat hal-hal penting.
Terakhir, menulislah.

Gampang, 'kan? karena yang Anda tulis ada dalam realita.



#5

Semalam saya nimbrung di area diskusi SPS (Studio Pertunjukan Sastra [Taman Budaya Yogyakarta), dalam rangka peluncuran Dokumentasi 70 Puisi Hary Leo AER, Menggambar Angin. Pembicaranya Prof. Suminto A. Suyuti, penyair yang juga guru besar FBS UNY.

Saya tanya, bagaimana menulis puisi yang baik. Kata Suminto, menulis puisi itu merumahkan kata. Tidak semua hal bisa masuk rumah, juga kata. Tidak semua perabot bisa dipajang di ruang tamu, juga kata. Tidak semua hal asyik jika ditaruh di kamar tidur, juga kata. Begitulah puisi.

#6

Tempo waktu kita belajar menulis dengan teori “nulis saja”. Setelah menulis, sekarang belajar mengedit. Hal terpenting dalam mengedit adalah: pisahkan diri Anda dari teks yang Anda edit. Anggap saja itu karya orang lain yang entah siapa.

Sekarang, Anda adalah hakim yang adil atas tulisan itu. Nah, ketika menemukan logika yang kacau, segera perbaiki. Ada kalimat yang bertele-tele, pangkas saja. Mendapati kata rancu, ganti yang pas. Lihat keseleo ketik, langsung koreksi. Harus tegas.

Oya, ini satu tips langka.

Sebuah artikel biasanya akan lebih efektif ketika paragraf pertama atau terakhirnya dibuang. Mengapa? Pada paragraf pertama, penulis sedang pemanasan. Dan di paragraf akhir, biasanya penulis sudah kehabisan energi. Tegasnya, pada dua titik itu biasanya penulis lengah. Jika begini, pangkas saja kepala dan ekor tulisan. Sisakan yang kuat dan efektif.



#7

Tulislah apa yang paling engkau tahu, yang paling dekat, dan --terutama-- yang paling engkau sukai. Engkau akan total dan menikmati dalam menulis. Dalam diam, tulisan itu akan menuntunmu untuk bereksplorasi semakin dalam pada topik yang engkau sukai. Diam-diam tulisan itu akan membuatmu "menjadi" dalam skill menulis sekaligus penguasaan akan topik tersebut.



#8

Melanjutkan Tips Menulis #7, maka memaksakan diri untuk menulis hal yang jauh, asing, dan tak diketahui adalah sia-sia belaka. Tulisan adalah representasi pengetahuan-diri, bagaimana mungkin seseorang bisa mengekspresi-representasikan sesuatu yang tak ia ketahui. Karena bahkan imaji fiktif sekalipun perlu pengetahuan agar ia bisa mengada, agar 'tampak' benar-benar real, agar masuk akal, agar setidaknya enak dibaca.


Fiksi dan nonfiksi memiliki satu kesamaan dalam efeknya pada pembaca, sepanjang keduanya logis-masuk akal. Menghadapi keduanya, nalar pembaca akan mengekstraksi segala pengetahuan yang dibacanya itu, baik fiksi maupun nonfiksi untuk diinternalisasikan ke dalam dirinya, tentu, dengan kapasitas yang berbeda pada setiap personnya.

Dalam fiksi, orang cenderung bersikap terbuka dan menurunkan derajat kritisnya. Berbeda misalnya, ketika seorang pembaca disodori teks nonfiksi, dimana pembaca cenderung kritis. Kita akan banyak bertanya: Apa betul ini pernah terjadi? Seberapa akurat datanya? dan seterusnya.

Namun di sisi lain, banyak teks fiksi yang dengan bangga memasang tagline "Diangkat dari Kisah Nyata" atau "Berdasarkan Kisah Nyata". Dan para pembaca cenderung terpikat dengan tagline tersebut. Apakah para pembaca tertarik pada buku semacam ini hanya untuk memenuhi hasrat penasaran mereka? Ataukah para pembaca sengaja menumpulkan kritisismenya pada teks tersebut, dan cenderung bergeser menjadi semata-mata penikmat? Atau ?.