Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Revolusi ala Gus Nuril

"Tidak ada satu pemimpinpun di dunia ini yang tidak diktator. Tidak ada.
Tentu, orang akan menilai miring soal ini. Tapi kalkulator Tuhan tidak akan salah sejauh sikap diktator itu untuk kesejahteraan rakyat"
 Kyai nyentrik yang satu ini memang doyan bicara blak blakan. Tak peduli apakah idenya di terima atau tidak bagi khalayak, dia tetap berjalan sesuai dengan apa yang ia yakini. Bagi Gus Nuril, ada batas batas tertentu dimana kita mengkompromikan ide, tapi untuk hal hal yang prinsip, tokoh yang di kenal sebagai orang dekat Gus Dur ini akan terus memperjuangkan hingga kapanpun.

Berikut segmen pertama hasil reportase team Gubrak Indonesia bersama Ketua Umum Gusdurian Nusantara, KH Nuril Arifin, MBA.

Gubraker :
Belakangan ini kita sering mendengar ide progresif anda soal Revolusi Taman Hati, seperti apa model revolusinya ?

Gus Nuril :

Ini revolusi yang soft. Revolusi tanpa kekerasan. Bukan revolusi yang di bangun dari proses pergulatan fisik yang banyak mengorbankan darah rakyat. Ini revolusi yang timbul dari keinginan terdalam dari rakyat Indonesia yang telah jenuh melihat ketidak adilan yang di lakukan oleh elite elite politik.

Gubraker :
Kenapa harus dengan revolusi ?. Apakah system yang ada tidak menjanjikan kemajuan bagi kehidupan rakyat ?.

Gus Nuril :
Ini yang membedakan saya dengan Gus Dur dalam memandang demokrasi. Gus Dur kompromi terhadap system demokrasi. Saya tidak. Tapi tidak masalah. Gus Dur menggunakan metode Nabi Isa yang lemah lembut, arif dan bijaksana. Saya menggunakan pendekatan Musa. Tegas. Dan itu hanya bisa di capai dengan revolusi !!!.

Gubraker :
Apakah itu artinya  anda menyetujui konsep kepemimpinan diktator ?

Gus Nuril :
Tidak ada satu pemimpinpun di dunia ini yang tidak diktator. Tidak ada.

Tentu orang akan menilai miring soal ini. Tapi kalkulator Tuhan tidak akan salah sejauh sikap diktator itu untuk kesejahteraan rakyat.

Ambil contoh, tembok China. Wanly Chang Cheng. Berapa banyak yang di korbankan oleh para penguasa China dari darah dan keringat rakyatnya ?. Ratusan ribu atau mungkin jutaan jiwa melayang mengiringi pembangunan tembok fenomenal itu.

Berapa banyak harta rakyat yang tersedot untuk mewujudkan itu ?. Jika kita menilainya pada saat itu, tentu apa yang di lakukan para penguasa China adalah perbuatan yang kejam. Mengorbankan begitu banyak energi negara. Tapi bagaimana dengan sekarang ?.

Bangsa China berbondong bondong menyanjung,  membanggakan hasil karya leluhurnya. Mereka begitu bangga, ketika tehnologi modern mengklaim bahwa ketika astronot singgah ke bulan kemudian menatap bumi, yang terlihat adalah liukan indah Tembok China.

Gubraker :
Artinya anda siap untuk tidak populer di mata rakyat ?

Gus Nuril :
Biar saja…!!!. Rakyat mengenang kita sebagai pemimpin yang kejam, pemimpin tirani, yang begitu banyak mengorbankan berbagai kepentingan. Tapi, seperti halnya Wanly Chang cheng, rakyat juga akan mengenang apa apa yang kita hasilkan. Pemerintahan yang bersih, pemerintahan yang meletakkan sebuah system yang mensejahterakan rakyat, pemerintahan yang peduli.

Gubraker :
Bagaimana cara untuk mencapai itu ?

Gus Nuril :
Mungkin revolusi itu akan terjadi 5 atau 10 tahun yang akan dating. Dan jika saya di percaya, saya hanya minta 1 periode. 6 bulan pertama, kita gilas koruptor.

Gubraker :
Bisa ?

Gus Nuril :
Bisa. Kenapa tidak ?. Beri saya 3000 pasukan terlatih. Kita hidupkan lagi Petrus (Penembakan misterius). Setiap kabupaten kita tempatkan 3-5 personel. Kita kawal lembaga hukum. Kalau pengadilan banyak di beli koruptor, petrus yang akan menghakimi koruptor. Hari ini di bebaskan, malam ini juga eksekusi. Kalau hakimnya nakal, kita dor mereka. Kasus kriminal yang tidak terselesaikan di meja pengadilan, biarlah kita selesaikan dengan cara kita. Beres….!.

Gubraker :
Bagaimana dengan pembangunan ekonomi ?

Gus Nuril :
Pembangunan ekonomi kita di dasarkan atas strategi ekonomi kelautan. Karena 70 % wilayah kita adalah laut. Kita bangun pelabuhan skala internasional di Semarang dan Pacitan dimana kapal kapal berukuran jumbo bisa merapat di situ. Kita juga akan membangun landasan pesawat  di sana untuk mendukung pertahanan kita dan untuk mendukung sarana transportasi.

Dari Semarang hingga Pacitan kita bikin sungai yang bisa di lewati kapal kapal besar, yang membelah pulau Jawa hingga dua bagian.

Kapal kapal dari Afrika dan Amerika latin tak perlu lagi menggunakan laut Somalia yang di sesaki bajak laut, tak perlu melewati selat Hormuz yang berbahaya untuk mengangkut barang dagangannya menuju Asia. Yang dari Amerika latin bisa menyusuri Pantai Selatan benua Afrika menuju Indonesia lalu ke Asia, dan sebaliknya. Yang dari Australia tak perlu mengelilingi pulau Jawa untuk menuju Asia. Cukup memotong jalur dengan menyusuri sungai Pacitan – Semarang lalu ke Asia. Dan lain sebagainya.

Bersambung