Theme images by Storman. Powered by Blogger.

4 TAHUN BERSAMA PMII: Sebuah Proses Menghadirikan Kesadaran

Penulis : Syamsul Hadi
Editor : Syamsuuddin Sirah
Sambutan : Drs. H. Marinah Hardi (DPRD NTB 2009-2014)
Pengantar : Fairus Zabadi, SH (Ketua NU kota Mataram)
Pengantar : Erma Suryani, M. Ag (Ketua Kopri PC PMII Mataram 1990-2000)
Penerbit : Elhikam Press Lombok
ISBN : 978-602-19310-3-5
Ukuran : 13 Cm x 20 Cm
Cetakan 1 muharram 1433 H/Desember 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All Right Reserved

Berita Radar Lombok Edisi senin 20/02/12
Kiprah Syamsul Hadi Senbaghai Penulis Muda NTB”
Belajar Darti Organisasi, Terinsfirasi Kondisi Guru Indonesia
Tidak banyak penulis muda yang muncul dipermukaan. Bagi syamsul hadi, sebagai penulis muda, dia ingin karya tulisya bias menggugah kesadaran diri dan lingkungan.
SYAMSUL HADI masih duduk di bangku kuliah IKIP Mataram. Meski masoih tercatat mahasiswa, sudah banyak karya tulis yang dihasilkannya. Dalam setiap karyanya, ia berusaha menuangkan buah pikirannya., meski itu masih bersifat local dengan bahasanya yang luigasdan sederhana. Namun karya tulis baginy, bisa menggugah masyarakat melalui pola piker yang disajikan lewat kalimat yang penuh dengan pesan dan nasehat.
Itulah salah satu alasannya ia menerbitkan karyanya “4 TAHUN BERSAMA PMII: Sebuah Proses Menghadirkan Kesadaran”. buku di terbitkan oleh al Hikam Press Lombok ini berisi 113 halaman yang di akhiri dengan biodata dirinya sebagai penulis buku ini.


Pria kelahiran 31 desember 1989, dusun nangker desa pandan indah kecamatan Praya Barat Daya Kabupaten Lombok Tengah. Ini mencoba mengulas sejarah kehidupan diri dan organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IKIP Mataram.
Mulai dari awal keberangkatannya di sebuah gubuk yang penuh dengan tekanan otang tua yang serba mengatur langkahnya dalam bergaul. Hingga akhirnya ia mencoba menemukan titik dari secercah pengalaman di organisasi.
Seperti yang di ungkapkan anggota DPRD Prov. NTB, Drs. H. Marinah Hardi Dalam sambutannya. Bahwa tradisi menulis masih belum menjadi bagaian kegiatan masyarakat. Dimana orang lebih mengutamakan kekuatan lisan dan otak dari pada kekuatan pena.
Marinah dalam prolog buku ini mengatakan, belum banyak masyarakat NTB yang mau menuangkan buah pikirannya dalam bentuk tulisan. Sehinga kelemahan itu menjadi kemandekan bagi masyarakat NTB untuk berkembang di bidang karya tulis. Sesederhana apa tulisan itu tetap menjadi semangat bagi masyarakat pada umumnya Terutama anak muda seperti syamsul hadi.
Bagi syamsul, menulis adalah sebuah proses untuk menggugah kesadaran masyarakat. Dia tergugah menulis setelah membaca sebuah artikel yang di muat media masa tahun 2009 lalu. Dalam tulisan itu, di kupas meskinya karya guru busar di indoensai.
Dia ter insfirasi untuk bisa menghasilkan karya tulis. Syamsul mulai dengan mencoba menuangkan pengalaman yang didapatkannya dari organisasi, realitas social yang ada serta pengalaman hidupnya, “itulah yang membuat saya semangat, sebuah karya bahwa guru besar di Indonesia miskin karya”. Ucapan ketika ditemui Koran ini di tempat indekosnya di jalan pendidikan, mataram.
Baginya, sebuah karya tidak hanya lahir ketika seseorang itu sudah mateng dalam pikiran dan pengalaman. Sehinga pada taha[p penjajakan itu ia bisa menilai dirinya sampai sejauh mana buah pikirannya. Tentunya dengan mengaharpakn keritikan dari sejumlah akademisi, politisi dan elemen masyarakat lainnya yang sudah kenyang makan asam garam dalam berkarya.
Dengan demikian, kedepannya ia bisa membangun dirinya menjadi lenbih baik dengan melahirkan karya-karya yang lebih baik lagi, ketika capaian kedewasaan dalam tingkat umurnya lebih mendukung dengan pengalaman-pengalaman matang. “jika tidak dari sekarang, kapan lagi kita harus mulai”. Paparnya.
Dalam bukunya ini ia lebih banyak berbicara masalah kegiatan organisasinya di samping kehidupan social budaya dan pemerintahan. Dalam berbagai bagaian, ia mencoba menuangkan ke arifan budaya loka, social politik dan pendidikan yang ada di NTB. Sehinga di harapkannya mampui menjadi sebuah proses menuju kesadaran. Sosok pemuda sederhana itu mengakui, bahwa apa yang ditulisnya dalam bukunya ini masih sangat lemah dan belum matang. Namun hal itu akan menjadi semangatnya kedepan untuk menciptkan karya yang lebih berkualitas. Saat ini, ia tengah menggarap sebuah karya tentang Melirik Desa Dari Jauh. Dalam karya terbaru yang belum ia terbitkan ini nantinya akan berisi pembangunan di desa yang belum banyak tersentuh.
Ia mencoba mengangkat ketimpangan pembangunan di desa dengan tolak ukurnya adalah listrik, pendidikan dan fasilitas jalan. “jurusan tidak penting, tapi bagaimana kepekaan seseorang melihat realitas social. Itulah yang saya coba tuangkan dalam tuliasn itu nantinya”. Hayalannya. Sumber (DALAAH-MATARAM Radar Lombok Edisi Senin 20/02/2012)
Syamsul Hadi menunjukkan buku hasil karyanya. Meski masih duduk di bangkui kuliah, dia sudah aktiv menulis.


(Syamsul Hadi adalah Gubraker asal Lombok Nusa Tenggara Barat)