Theme images by Storman. Powered by Blogger.

Menjadi Gubraker, Belajarlah pada Ibu

Picture

Menjumpai hari, suasana sepi
Menikmati nafas alam tak berasa
Beragam warna terbayang sekilas
Menyingkirkan luka tanpa diminta…

Pernahkah ku sadar tanpa itu semua
Dalam terang surya selalu terjaga
Memahami makna, arti kenyataan
Keremangan senja selipkan hampa…

Di mana kawanku… ingin ku menyapa
Beri aku ruang… tempatkan diriku
Di mana kawanku… semakin menjauh
Beri aku arti… tak ingin berbeda

Kau palingkan wajah, acuhkan muka
Menyamakan arti, bukan suara hati
Ingin berbicara hasrat pengungkapan
Masih pantaskah aku di sampingmu…

By PADI

Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih).



Hadits ini begitu populer di kalangan muslim. Menggambarkan betapa vitalnya posisi seorang ibu di dalam keluarga yang terkadang sering kita abaikan sebab peranannya yang kurang menyasar pada hal hal besar atau mungkin sebab hal lain. Kalau kata almarhum nenek saya, ibu kurang di perhatikan bahkan seringkali tidak didengar pendapatnya sebab sebagian aktifitasnya tidak menghasilkan nilai yang komersil, misalnya di banding ayah.



Padahal, jikalau kita berusaha sejenak mencoba menggali, atau setidaknya membayangkan untuk memerankan diri sebagai seorang ibu, barangkali akan terlihat jelas, betapa sulitnya menjadi ibu.

Tidak saja harus bangun lebih awal untuk menyiapkan segala keperluan keluarga,

Tidak saja harus menahan beban berat selama 9 bulan mempersiapkan kelahiran sang penerus keluarga,

Tidak saja mengenai aktifitas sekitar rumah,

Tidak saja sekedar itu.

Terkadang ibu juga harus bekerja mengganti, membantu atau mengambil alih tugas suami sebab satu dan lain hal.

Bahkan hal kecil, seringkali ketika 2 anak berebut mainan, berantem dan berselisih, lagi lagi ibu di paksa menjadi mediator, dan ketika salah penanganan, menjadi pihak yang paling banyak di salahkan.

Ibu,

Tidak lebih kuat dari anggota keluarga lain

Ibu,

Tidak lebih sahih pendapatnya di banding yang lain

Ibu,

Tidak lebih banyak menghasilkan uang di banding yang lain

Ibu,

Seringkali di interogasi mengenai carut marut rumah tangga





Menafkahi keluarga, tentu bukan perkara mudah. Tapi nyatanya merawat rumah, menjaga anak anak, menjadi penghibur yang baik buat suami jauh lebih rumit, sulit dan penuh tantangan di banding dengan pekerjaan apapun.

Begitupun mengelola GUBRAK. Kendati, sejatinya kami tidak ingin di posisikan sebagai seorang atasan, seorang pemimpin, ahlul bait atau apapun istilahnya, nyatanya kami tetap saja harus duduk sebagai muara dari segala hiruk pikuk organisasi. Menjadi sentral dari segala keluh kesah. Menjadi sasaran dari segenap kritik, kemarahan serta caci maki segenap anggota.

Kami mesti menjadi pendengar yang baik manakala saatnya semua bicara,

Kami harus menjadi mediator yang moderat manakala silang sengketa mengemuka,

Kami wajib menjadi benteng terakhir di saat organisasi mendapat ancaman,

Kami juga harus berpikir bagaimana mengupayakan organisasi bisa hidup, berkembang dan menuju sasaran yang tepat

Dan

Kami harus bisa meletakkan dasar dasar perjuangan, mengawal visi misi dan mengantarkan semua anggota keluarga menuju cita cita yang di inginkan bersama.



Sejak awal, kita sudah berkomitmen bahwa kita akan mengambil JALUR TENGAH. Mengambil tempat di pusaran di antara sekian banyak kepentingan, karakter dan tujuan anggota. Saya kira salah, jika kita beranggapan bahwa haluan ekstrim itu jauh lebih sulit daripada mengelola massa yang plural. Menjadi ekstrim jauh lebih mudah. Ketika anda lebih tegas menentukan mana musuh mana kawan, kemudian meramu doktrin dengan sangat ketat, maka jalan menuju ekstrim terbuka lebar.

Bermain di tengah jauh lebih sulit. Titik persinggungannya lebih banyak, lebih rumit dan lebih bertele tele. Kita bisa di gempur dari sisi kanan, di senggol dari sisi kiri dan gebukin dari depan dan belakang.

Hal yang kecil saja, ketika muncul isu isu sensitive yang berpotensi memicu sengketa antar keyakinan, ideologis dan kepentingan, maka pergolakan paling berbahaya tentu berada di pusaran. Sama seperti proses terjadinya angina putting beliung. Ketika angin dari segala penjuru bertumbukan, maka di tengahlah badai itu terjadi.



Akan tetapi, seperti halnya teori Ying Yang, Hitam Putih dan Kosong Isi, sejatinya angin itu tidaklah berbahaya, api itu tidaklah berbahaya dan air itu tidaklah berbahaya, jikalau kita mampu mengolah energi ini menjadi lebih bermanfaat untuk semuanya.



Memuaskan semua pihak, tentu pekerjaan yang  mustahil, menihilkan korban juga sudah pasti sulit di lakukan. Karena itulah ritme kehidupan. Yang bisa kita lakukan, (menjiplak konsep NU), mentoleransi bahaya yang kecil untuk menghindari bahaya yang lebih besar.



Maka, kunci dari semua itu adalah bagaimana kita secara cerdas memilah dan memilih, mana yang di utamakan, mana yang sekunder dan mana yang perlu di buang. Dan selanjutnya senantiasa mengacu pada tujuan awal. Bahwa jalur yang kita ambil adalah JALUR TENGAH. Tempat dimana semua hal bertemu.

Di tengah,

Kita temukan banyak kawan

Di tengah,

Kita temukan banyak pikiran

Di tengah,

Kita temukan banyak masalah

Di tengah,

Kita temukan banyak musuh

Di tengah,

Semua bermuara



Untuk menjadi seorang yang berkepribadian tengah, banyak banyaklah belajar pada ibu.

Ibu. Pendengar yang baik, pekerja yang gigih, moderator yang cerdik dan pelaku toleransi yang tiada duanya…


Thanks buat semua warga GUBRAK.

Yang di kanan, di kiri, di depan atau ia yang hanya menjadi penyimak di belakang…

Jakarta, 11 Maret 2012

Komandan Gubrak
Salam GUBRAK!!!!