Theme images by Storman. Powered by Blogger.

FROM BLITAR WITH LOVE

Blitar kutho cilik sing kawentar
Edi peni gunung Kelud sing ngayomi
Blitar jaman Jepang nate gempar
Peta brontak sing dipimpin Supriyadi
Blitar Nyimpen awune sang noto
Mojopait ning candi Penataran
Blitar nyimpen layone Bung Karno
Proklamator lan presiden kang kapisan


oleh Mohammad Hafidz Atsani

“Hurub Hambangun Praja”
Artinya ‘semangat membangun negara’. Inilah motto terkenal yang selalu mengiringi perjalanan Kabupaten yang terletak di kaki Gunung Kelud dengan Sungai Brantas yang membelah Blitar menjadi dua bagian. Blitar menurut buku ‘Bale Tatar’ berasal dari kata ‘Bali Tartar’. Penggunaan istilah ini sebagai nama Kota di mana Sang Proklamator di makamkan rupanya menjadi semacam peringatan akan sebuah peristiwa heroic masa silam. Di ceritakan, pada jaman pemerintahan Prabu Kertanegara di Singasari (daerah Malang) Raja Mongol Kubilai Khan yang telah sukses menginvasi Annam (Vietnam Utara), Champa (Vietnam Selatan), Kamboja, Burma hingga ke Thailand berhasrat ingin menyempurnakan penaklukannya dengan meluaskan wilayahnya hingga ke pulau Jawa. Maka di utuslah duta besar Mongol ke Kerajaan Singasari guna memaksa penguasa Singasari kala itu (Prabu Kertanegara) agar tunduk di bawah ketiak Kubilai Khan. Namun sial, bukannya Prabu Kertanegara bersedia tunduk dan mengirim upeti pada Kubilai Khan, justru penguasa Singasari itu meledek Kubilai Khan dengan memotong kuping sang duta dan mengusirnya.
Mendapati utusannya di perlakukan demikian, maka marahlah sang Kubilai Khan kemudian mengirim tak kurang dari 20.000 balatentara (di sebut Tentara Tar Tar) pada tahun 1292 yang di pimpin jendral Ike Mese, Kau Hsing dan Shih Pi menuju pulau Jawa guna menghukum Kertanegara sekaligus menakhlukkan Pulau Jawa. Sesampainya di pulau Jawa, balatentara Tar Tar mendapati Pulau Jawa dalam keadaan telah rusak akibat perang antara Jayakatwang (Bupati Gelang Gelang) dan Prabu Kertanegara yang berakhir kekalahan di pihak Kertanegara. Tewasnya Kertanegara di tangan Jayakatwang rupanya tidak menyurutkan niat Tentara Tar Tar untuk membalas dendam. Ketika tahu bahwa Kertanegara masih menyisakan pewarisnya di Perdikan Majapahit, maka tentara Tar Tar bergegas ke desa Majapahit guna menangkap pewaris Kertanegara.
Adalah Raden Wijaya putra Dyah Lembu Tal, putra Narasinghamurti alias Mahisa Campaka adalah putra Mahisa Wonga Teleng putra Ken Arok pendiri Wangsa Rajasa sekaligus menantu dari Prabu Kertanegara yang kemudian hendak di tangkap tentara Tar Tar untuk di bawa menghadap sang Kubilai Khan. Mendapati tentara Tar tar hendak menangkapnya, raden Wijaya lalu bersiasat. Dia bersedia tunduk pada Raja Mongol asal tentara Tar Tar bersedia membantunya mengalahkan Jayakatwang. Siasat ini kemudian di sanggupi tentara Tar Tar. Maka tak lama kemudian gabungan tentara Tar Tar dan Majapahit yang juga di bantu Arya Wiraraja dari Sumenep bergerak ke Kediri dimana Jayakatwang berkuasa. Perang dahsyat terjadi di Kediri, tak kurang dari 5000 prajurit Kediri tewas. Jayakatwang kemudian di tawan tentara Tar Tar.
Setelah mengalahkan Jayakatwang, raden Wijaya meminta ijin untuk kembali ke Majapahit guna menjemput keluarganya dengan kawalan tentara Tar Tar. Sesampainya di Majapahit, bukannya membawa keluarganya untuk menyerahkan diri pada Tentara Tar Tar, justru Raden Wijaya memerintahkan prajuritnya balik menyerang tentara Tar Tar. Kontan saja tentara Tar Tar yang sama sekali tidak mengira bakal mendapat serangan mendadak dari pihak Wijaya kocar kacir dan melarikan diri ke hutan di selatan Blitar. Kekalahan tentara Tar Tar ini menandai naiknya Raden Wijaya sebagai Raja di tanah Jawa yang berkedudukan di Majapahit berjuluk Prabu Kertarajasa Jayawardhana.
Setelah naik tahta, upaya Raden Wijaya untuk mengusir sisa sisa tentara Tar Tar belumlah padam. Maka di utuslah Nilasuwarna memimpin pasukan Majapahit guna menumpas tentara Tar Tar yang bersembunyi di hutan selatan. Misi ini sukses di jalankan Nilasuwarna, kemudian Prabu Kertarajasa jayawardhana menganugerahi Nilasuwarna tanah di hutan dimana tentara Tartar berhasil di tumpas. Hutan itu kemudian di beri nama Balitar (Bali Tar Tar ) untuk mengenang kekalahan telak tentara Tar Tar. Nilasuwarna di nobatkan sebagai bupati di Balitar (Blitar) dengan julukan Adipati arya Blitar.

Itulah sekelumit mengenai kota Blitar. Kota yang menurut saya sangat sejuk. Tanahnya subur, berwarna abu-abu kekuningan, bersifat masam, gembur dan peka terhadap erosi. Maka tak heran, Blitar adalah penghasil Padi, Tembakau dan sayur mayur dengan kualitas terbaik. Selain itu, Blitar juga terkenal dengan produk buah buahannya loh. Apalagi buah Belimbing dan rambutannya. He he he ….. (thanks mas Alvin yang udah ngasih sekardus rambutannya).
Tour Gubraker ke Blitar start jam 5.30 WIB mengambil rute Karanganyar-Sragen-Nganjuk-Kediri trus Blitar membawa serta 9 Gubraker Solo. Sempat nyasar Bojonegoro sekitar 5 km, tapi akhirnya sukses juga mencapai Blitar. Dan sesuai rencana, kami mengambil tempat makam Bung Karno sebagai lokasi pertemuan. Ini yang saya sebut uniknya Gubrak. Pertemuan gubraker sejauh ini paling sering kalau nggak di Pesantren, kakilima, ya di kuburan (Padahal komunitas lain yang berhubungan dengan kuburanpun belum tentu se ekstrim Gubrak yang menggunakan kuburan sebagai ajang silaturahmi). Hehehehe ….
Di pos depan makam kami langsung di sambut belasan Gubraker Blitar (ada mas Adie Rey, mas Tawakal, mbak Ajeng Dewi dll). Suasana sangat akrab, saya merasa Blitar adalah kampung halaman sendiri. Setelah ramah tamah, kamipun langsung memasuki komplek makam. Di sana sudah ada mas Imamudin (Gubraker Sidoarjo), mbak Arina (ini orangnya lumayan cerewet, tapi asyik di ajak ngobrol). Ada lagi Yunnairaa (kalau yang ini bukan orang baru di Gubrak. Dia masuk kelompok assabiqunal awwalunnya Gubrak. So, tahu persis gimana awalnya Gubrak di rintis). Persisnya nggak ngitung, tapi perkiraan ada 25 lebih Gubraker yang saat itu ngluruk di makam BK.
Pertemuan di Blitar ini menjadi yang pertama terbesar sepanjang sejarah Gubrak. Dan asyiknya, kalau biasanya di DKI kita ketemunya sama yang tua tua, di Blitar mayoritas penGubraknya adalah anak muda. Umurnya rata rata 20an (dan yang pasti banyak singlenya). Makanya buat Gubraker yang masih lajang, jangan kemana mana, segera hubungi Gubraker Blitar. Kali aja berjodoh. Heheheheh….
Acara di mulai dengan tahlil jamaah di makam BK, di pimpin sahabat saya mas Slamet (yang ini kyai beneran lohh). Sama seperti ketika saya ke Tebu Ireng, makam BK juga tak pernah sepi dari peziarah dari berbagai daerah baik muslim maupun nonmuslim. Semua berdoa sesuai dengan keyakinannya masing masing.
Selepas dari makam BK, kami kemudian di ajak berkeliling Blitar dan menikmati tongkrongan warung bakso terkenal di Kota Blitar. Di sini suasanan sangat cair, bahkan saya sempat di tantangin panco sama salahsatu sobat Gubrak Blitar (dan kalah 3-0). Maklum musuhnya khan pesilat. Ha ha ha ha
Ada pesan indah dari Gubraker Blitar untuk kita semua. Bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti, harus ada tindak lanjut yang terukur. Sudah saatnya kita menunjukkan jati diri. Bahwa tanpa sokongan dana yang kuat ataupun dukungan politik dari pemangku kekuasaanpun kita mesti yakin BISA!!!. Kalau bukan kita yang berusaha merawat negeri ini siapa lagi ???.


Blitar kutho cilik sing kawentar
Edi peni gunung Kelud sing ngayomi
Blitar jaman Jepang nate gempar
Peta brontak sing dipimpin Supriyadi
Blitar Nyimpen awune sang noto
Mojopait ning candi Penataran
Blitar nyimpen layone Bung Karno
Proklamator lan presiden kang kapisan

Ono crito jare Patih Gajah Modo
Ingkang bisa nyawijikne nuswantoro
Lan ugo Bung Karno sing kondang kaloko
Ning tlatah Blitar lair cilik mulo

Ora mokal Blitar dadi kembang lambe
Ora mokal akeh sing podo nyatakne
Yen to geni ngurupake semangate
Yen to banyu nukulake patriote


Terima kasih untuk sambutan dahsyatnya…
Thanks mas Alvin, rambutannya manis banget..
Thanks adikku, Yunnairaa. Jamuan makannya bikin tambah gemuk. Makasih juga kaosnya untuk dua buah hatiku
Makasih mas Imam atas hadiahnya…
Makasih juga para pendekar SH Terate Kota Blitar. Wis pokoknya kalau urusan bentrokan, Gubrak pasrah ke sampean semua…
He he he he
Makasih juga buat sobat Gubrak se Solo yang udah meluangkan waktu berkunjung ke Blitar.
Buat Gubraker daerah lain, kapan nih kita ketemuan ????